Kisah psikolog layani aduan kasus rugikan perempuan-anak di masa pandemi: Depresi hingga percobaan bunuh diri

Rabu, 3 Juni 2020 | 12:14 WIB ET
Ilustrasi korban kasus kekerasan terhadap perempuan (istimewa)
Ilustrasi korban kasus kekerasan terhadap perempuan (istimewa)

MASA pandemi Covid-19, dengan berbagai dampak sosial-ekonomi yang menghantam keluarga, berpotensi membuat kalangan perempuan dan anak semakin stress, bahkan depresi. Mereka berpotensi menjadi korban kekerasan domestik.

Kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di banyak provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia ternyata dinilai juga ikut menghambat penanganan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) karena mobilitas orang menjadi terbatas.

Layanan psikologi secara online pun menjadi kanal pengaduan yang efektif untuk penanganan kasus yang merugikan perempuan dan anak. Layanan konseling psikologi sehat Jiwa (SEJIWA), yang digerakkan sejak 29 April dengan kolaborasi ratusan relawan berlatar belakang psikolog dari Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dan didukung pemerintah, ramai ”diserbu” warga.

Para psikolog sejak 29 April sampai 30 Mei 2020, melayani 1.366 aduan dari pelosok negeri.

Salah seorang psikolog yang menjadi relawan SEJIWA, Yuria Ekalitani, berkisah, dia terus menangani masyarakat yang membutuhkan penanganan psikologi. Selama bertugas, dia melayani dan menangani 11 pengaduan.

“Ada 11 orang, kasus yang dihadapi berupa kecemasan, depresi hingga percobaan bunuh diri.  Kami dibekali teknik penanganan yang tepat sehingga membantu mereka mengatasi masalahnya,” kata Yuria dalam diskusi virtual akhir pekan lalu, Sabtu (30/5/2020).

Ketua Umum Pengurus Pusat Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Dr Seger Handoyo, Psikolog, mengatakan, masalah perempuan dan anak itu bersifat multisektoral, sehingga perlu kerja bersama dari banyak pihak. HIMPSI mengapresiasi langkah pemerintah yang mendukung penanganan kasus perempuan dan anak selama masa pandemi Covid-19 melalui konseling psikologi.

”Layanan konseling psikologi ini perlu terus dilanjutkan untuk melayani pengaduan masalah perempuan dan anak ke depannya,” ujarnya.

Kepala Staf Kepresidenan RI Dr Moeldoko mengatakan, para relawan psikolog sudah mengorbankan waktunya untuk membantu masyarakat Indonesia. “Ini merupakan panggilan kemanusian yang sangat mulia dan bernilai tinggi,” kata dia.

Karena dianggap sukses, Moeldoko berharap, layanan yang diberikan SEJIWA ini terus hadir dan berlanjut untuk membantu masyarakat sekalipun pandemi ini berakhir. Selain itu, menurut  Moeldoko, Covid-19 tidak saja berkaitan dengan kesehatan saja. Dampak yang terjadi adalah banyak sektor. “Ada kecenderungan masyarakat mulai bosan tinggal di rumah. Maka dalam kondisi ini, hadirnya SEJIWA memiliki manfaat yang luar biasa, membantu warga menangani masalah dari aspek psikologi,” tegas Moeldoko.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, I Gusti Ayu Bintang Darmawati, mengatakan, layanan psikologi ini sangat penting karena memastikan perempuan dan anak tetap terlindungi haknya, tidak terlantar, anak mendapatkan pengasuhan yang baik meski orangtua terpapar Covid-19 atau mengalami kesulitan di masa pandemi ini.

”Kita harus berjuang untuk pemenuhan hak psikososial perempuan dan anak,” kata Bintang.

Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) menyebutkan, selama kurun waktu 2 Maret - 25 April 2020, terdapat 275 kasus kekerasan yang dialami perempuan dewasa. Total korbannya mencapai 277 orang. Selain itu, terdapat 368 kasus kekerasan anak dengan korban sebanyak 470 anak.

Layanan SEJIWA sendiri bisa diakses dengan mengontak 119 ext 8, yang juga merujuk kepada hotline unit pengaduan Kemen PPPA yaitu 0821-2575-1234/ 0811-1922-911 atau melalui web browser http://bit.ly/kamitetapada, dan surat elektronik (email) pengaduan@kemenpppa.go.id.

Layanan SEJIWA juga terhubung dengan Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA)/P2TP2A serta Lembaga Perlindungan Anak (LPA) dan Forum Pengada Layanan (FPL) yang ada di seluruh provinsi dan kabupaten/kota, sesuai lokasi pelapor berada. kbc4

Bagikan artikel ini: