Kisah penyintas Covid-19: Stres karena stigma, bangkit dengan pendampingan psikolog

Senin, 1 Juni 2020 | 21:27 WIB ET
Dialog penyintas Covid-19 dengan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 di Kabupaten Banyuwangi.
Dialog penyintas Covid-19 dengan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 di Kabupaten Banyuwangi.

BANYUWANGI – Pemberian stigma buruk kepada pasien positif Covid-19 masih saja terus terjadi. Literasi publik tentang Covid-19 yang relatif rendah membuat stigma negatif itu lekat ke pasien positif virus corona. Stigma itu bisa membuat pasien stres, bahkan depresi, sehingga membuat penyembuhannya juga berlangsung lebih lama.

Pengalaman tidak mengenakkan itu juga menimpa sejumlah pasien positif Covid-19 di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Seorang perempuang yang disebut sebagai Pasien 01 merasakan sempat stress karena adanya stigma dari masyarakat. Seolah-olah terkena Covid-19 adalah sebuah aib besar.

Awalnya dia stres. Belum tenang karena merasakan kesehatannya yang terpapar Covid-19, sang pasien bertambah tertekan lantaran ada stigma buruk dari masyarakat. Beruntung, tempat dia dirawat, yaitu RSUD Blambangan, rutin menghadirkan psikolog untuk mendampingi pasien—selain penanganan secara medis.

”Awalnya saya stres. Namun, saya terus berusaha mengelola pikiran, hingga akhirnya pulih dan dinyatakan sembuh. Saya beruntung karena tim RSUD Blambangan selalu membangkitkan semangat, selalu menghibur, saya diajak fokus dulu untuk meningkatkan kesehatan tubuh,” cerita Pasien 01 ketika berdialog menggunakan video call dengan Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Banyuwangi yang juga Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, beberapa waktu lalu (10/5/2020).

Kini, pasien 01 tersebut telah dinyatakan sembuh, dan pulang kembali ke rumahnya. ”Pihak kecamatan dan desa terus mengedukasi warga sekitar rumah pasien untuk tidak memberi stigma buruk. Covid-19 ini bukan aib. Asalkan semua taat protokol kesehatan, tidak bisa menular dengan mudah,” ujar Juru Bicara Penanganan Covid-19 Banyuwangi, dr Widji Lestariono.

Pengalaman mendapat stigma buruk juga dirasakan Pasien 03 di Banyuwangi, seorang pria, yang tertular Covid-19 saat menjalani pelatihan petugas haji di Asrama Haji Surabaya.

"Awalnya sempat stres saat dinyatakan positif Covid-19," ungkap pasien yang sempat dirawat di Pendopo Sabha Swagata Blambangan,, yang merupakan rumah dinas Bupati Banyuwangi.

dr Widji Lestariono mengatakan, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sengaja menjadikan rumah dinas bupati, pemimpin tertinggi di kabupaten, sebagai tambahan ruang isolasi untuk pasien Covid-19 bergejala klinis ringan.

”Dengan tinggal di rumah bupati, kami ingin menyampaikan pesan kepada masyarakat agar jangan memberi stigma buruk ke pasien. Bupati saja menyediakan rumah dinasnya untuk ditempati, artinya aman jika semuanya sesuai protokol kesehatan,” jelas dr Widji Lestariono yang juga kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi.

Menghibur dengan Lagu

Di RSUD Blambangan, Banyuwangi, selain menangani aspek medis, yang juga dilakukan adalah penanganan kesiapan mental pasien, mengingat Covid-19 ini merupakan jenis virus baru dan pemberitaannya membuat seluruh masyarakat takut.

”Kami selalu menghibur pasien yang jenuh menjalani isolasi hingga berhari-hari. Bahkan, terkadang petugas kami mengajak pasien untuk berkaraoke di ruang isolasi,” kata dr Roudhotul Ismailya Noor SpPK salah seorang dokter dalam tim Covid-19 di RSUD Blambangan.

dr Roudhotul Ismailya Noor mengatakan, selain jenuh, pasien juga bisa stres karena stigma buruk masih melekat ke mereka. ”Sehingga kami juga menghadirkan rohaniwan untuk memberikan siraman rohani dan memotivasi mereka. Juga ada psikolog,” ujarnya.

Psikolog RSUD Blambangan Betty Kumala Febriawati membenarkan hal tersebut. Saat pertama kali mendampingi pasien yang diisolasi, selain jenuh, pasien rata-rata dilanda kecemasan. Baik cemas dengan kondisi kesehatan tubuhnya hingga cemas dengan stigma masyarakat terhadap mereka.

“Kami memberikan semangat agar mereka tetap optimistis. Kami dorong agar fokus dulu pada kesehatannya agar imunitas tubuh terdongkrak. Untuk masalah stigma tidak perlu dipikirkan dulu, kami yakinkan jika penyakit ini bukanlah aib dan bisa disembuhkan,” kata alumnus Magister Profesi Psikologi Universitas Airlangga Surabaya itu.

“Alhamdulillah beberapa pasien yang tadinya terlihat murung, lemas, jadi lebih bersemangat. Yang tadinya hanya tiduran, jadi mau duduk bahkan sampai tertawa gembira selama konseling berlangsung,” ujar Betty yang memberikan konseling dua kali dalam sepekan. kbc5

Bagikan artikel ini: