Meraih kasih sayang di balik musibah

Selasa, 19 Mei 2020 | 15:55 WIB ET

WABAH virus corona (Covid-19) menguji semua kapasitas kita sebagai manusia. Covid-19 menyebar amat cepat. Sudah ratusan ribu orang jiwa di seluruh dunia.Corona juga membuat banyak pengusaha gulung tikar. Para pekerja pun terpaksa harus dirumahkan.

Corona membuat kita harus mengganti salat Jumat dengan salat zuhur di rumah. Covid-19 pun membuat mereka tidak bisa menjalankan ibadah umrah. Tanah Suci pun ditutup. Bahkan hingga kini, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi diisolasi.

Musibah yang benar-benar harus kita hadapi saat ini. Masalah terbesar yang kita hadapi adalah ketidakpastian. Meski kita yakin, Allah Subhanahu Wa Ta’ala pasti menciptakan penyakit sekaligus dengan obatnya.

Kesabaran menjadi senjata orang beriman dalam menghadapi ujian seperti sekarang. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menggambarkan mereka yang bersabar dengan begitu banyak derajat dan kebaikan.  Mereka pun dijanjikan imbalan yang begitu besar.

Allah Azza Wa jalla berfirman:

“Dan sungguh Kami akan benar-benar memberi balasan kepada orang-orang yang bersabar dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An-Nahl: 96).

Tidak ada upaya pendekatan kepada Allah Ta'ala  melainkan pahalanya ditentukan dan dihitung kecuali sabar. Allah menjanjikan, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS Al Baqarah: 153). 

Sabar adalah sebuah ungkapan mengenai teguhnya motivasi agama dalam menghadapi motivasi hawa nafsu. Faktor agama ini merupakan segala yang mengantar manusia pada petunjuk. Faktor tersebut yakni makrifat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Pun makrifat mengenai berbagai kemaslahatan yang berhubungan dengan akibat-akibat perbuatan. Itulah sifat pembeda manusia dengan binatang dalam memutus syahwat. Maka  barang siapa menahan amarahnya untuk terus menentang syahwatnya, ia termasuk dalam golongan orang-orang sabar.

Ustadz Aris Munandar, MA , alumni jurusan Fikh, Program Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta mengatakan setiap hamba perlu bersabar pada segala hal yang menimpanya. Baik sesuai dengan keinginan maupun tidak.

 Ketika dia mendapatkan sesuatu seperti kesehatan, keselamatan, harta, kedudukan, keluarga, hingga pengikut, dia harus bersabar. Jika dia tidak menahan diri untuk tidak melepas liar hawa nafsunya dan tenggelam pada maksiat.

Tidak heran jika Allah Taala mengingatkan hamba-hamba-Nya terhadap berbagai ujian tersebut. “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hrata kalian dan janganlah pula anak-anak kalian melalaikan kalian dari zikir kepada Allah.” (QS Al Munafiqun: 9).

Berikutnya, ketika kita mendapatkan sesuatu tidak selaras dengan hawa nafsu. Adakalanya sesuatu itu berhubungan dengan ikhtiar hamba seperti ketaatan dan kemaksiatan. Berikutnya, tidak berhubungan dengan ikhtiar tersebut seperti musibah yang kita hadapi sekarang.

Terpenting,sikap ridha dengan ketetapan Allah Ta’ala serta meyakini itu adalah titipan yang diambil kembali Pemiliknya merupakan sikap terbaik sebagai hamba. Musibah dalam bentuk apa pun pasti akan dialami manusia (QS Al Baqarah 155), yang jika menimpa orang-orang kafir, maka mutlak sebagai azab (QS As Sajdah: 21). Sebaliknya, jika menimpa orang-orang mukmin, pasti bagian dari bentuk kasih sayang Allah Ta'ala.

Paling tidak,ada tiga kemungkinan bentuk kasih sayang Allah Ta Ala di balik musibah yang menimpa hamba-hamba yang dicintai-Nya: Pertama sebagai ujian keimanan (QS Atuh Thalak 2-3). Ujian tentu saja sesuatu yang sangat positif.

Seorang mahasiswa tidak akan pernah berhasil menjadi sarjana tanpa menempuh berbagai ujian. Yang tidak positif adalah ketika seseorang tidak lulus menjalani ujian. Dan yang sudah pasti tidak akan lulus adalah mereka yang tidak pernah ikut ujian.

Setiap mukmin diharapkan bisa berhasil lulus menghadapi wabah covid-19 ini. Di antaranya dengan berikhtiar seoptimal mungkin untuk mengatasinya, dengan memanfaatkan seluruh potensi yang dianugerahkan Allah SWT kepadanya, sambil hati tetap teguh dalam keimanan, bersabar, bertawakkal dan berserah diri hanya kepada Allah.

Kedua sebagai pilihan Allah yang terbaik. Di mana tidak tertutup kemungkinan yang dikira sesuatu yang tidak baik itu, justru sesuatu yang sangat baik yang sedang Allah rencanakan dan tetapkan untuk kemaslahatan hidup di dunia dalam menggapai kebahagiaan yang hakiki dan abadi di Akhirat nanti (QS Al Baqarah 216)

Kehadiran wabah covid-19 sangat mungkin pilihan terbaik bagi sebagian mukmin untuk meraih predikat syahid. Sebagaimana yang dijanjikan Alah lewat sabda Rasul-Nya, dalam hadist yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, di mana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyatakan wabah seperti itu merupakan bagian dari azab yang ditimpakan Allah kepada orang-orang yang Dia kehendaki.

Namun, Allah menjadikan wabah juga sebagai rahmat bagi orang-orang mukmin. Maka jika wabah endemi terjadi di suatu daerah, lalu seorang mukmin menahan diri untuk tetap tinggal di daerah tempat tinggalnya dengan sabar,disertai keyakinan.

Bahwasanya musibah tidak akan pernah menimpa dirinya, kecuali jika Allah Ta'ala menetapkannya, maka ia akan memperoleh pahala seperti pahala orang yang mati syahid". (HR Bukhari )

Adapun Syaikh Islam Ibnu Tamiyah berpesan musibahmu yang mengantarmu kepada Allah sejatinya lebih baik dari nikmat yang membuatmu lupa kepada Allah Azza wa Jalla. kbc12

Bagikan artikel ini: