Ekonom usulkan penerapan lockdown selama dua pekan, ini alasannya

Rabu, 13 Mei 2020 | 07:08 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Penambahan jumlah kasus pasien Covid-19 di Tanah Air yang masih terus berlangsung, diharapkan menjadi pertimbangan bagi pemerintah untuk menerapkan kebijakan ekstra ketat jika ingin flattening curve kasus Covid-19 di Indonesia pada Mei 2020 ini.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan kebijakan ekstra ketat tersebut dapat berupa karantina wilayah atau lockdown selama setidaknya dua minggu. Menurutnya hal ini diperlukan guna mencegah adanya penambahan Orang Dalam Pengawasan (ODP) dan PDP secara signifikan dalam 1 bulan ke depan.

"Dengan semakin terbatasnya ODP dan PDP, maka risiko pertumbuhan kasus Covid-19 juga akan semakin terbatas sehingga pada akhir bulan Mei diharapkan pertumbuhan kasus akan semakin berkurang," katanya, Selasa (12/5/2020).

Meski demikian, menurut Josua, pemerintah juga seharusnya belum membuka secara penuh pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan secara perlahan membuka perekonomian agar gelombang kedua wabah Covid-19 tidak terjadi secara signifikan.

Jika diberlakukan lockdown, imbuhnya, aktivitas ekonomi akan cenderung lumpuh lebih parah dibandingkan dengan periode sebelumnya. Namun apabila diimplementasikan secara efisien, maka dampak perekonomian yang ditimbulkan cenderung terbatas hingga 1-2 kuartal saja, sehingga perlambatan ekonomi tidak terjadi secara berkelanjutan.

Josua menuturkan, di tengah masa pandemi dan dalam rangka memitigasi dampak negatif terhadap ekonomi akibat PSBB, pemerintah juga perlu mempercepat penyaluran Jaring Pengaman Sosial (JPS) bagi masyarakat berpenghasilan rendah, serta mengalokasikan anggaran untuk penyaluran JPS untuk masyarakat berpenghasilan menengah yang terkena dampak dari PSBB yang berpotensi besar untuk turun kelas menjadi masyarakat berpenghasilan rendah.

"Berdasarkan skenario dari pemerintah bahwa per 1 Juni, pemerintah akan melakukan kebijakan pemulihan ekonomi yang terdiri dari 5 fase dengan syarat protokol kesehatan tetap berlaku, menurut saya sektor jasa informasi dan komunikasi, jasa kesehatan, dan jasa pendidikan diperkirakan masih akan bertahan di fase-fase awal," katanya.

Kemudian, lanjut Josua, setelah memasuki fase 4 atau fase 5, sektor perdagangan serta manufaktur pun diperkirakan akan mulai berangsur-angsur beraktivitas sedemikian sehingga dampaknya pada perekonomian adalah bahwa pemulihan ekonomi akan terlihat paling cepat kuartal IV tahun 2020.

Hal tersebut akan terjadi apabila sesuai dengan skenario di mana flattening curve kasus Covid-19 cenderung mulai terjadi sejak bulan Mei ini. Namun, jika flattening curve tersebut belum terjadi, Josua menilai pembukaan aktivitas ekonomi secara bertahap dan pemulihan ekonomi pun diperkirakan akan mundur .

"Jika flattening curve belum terjadi, pemulihan indikator makro ekonomi yakni pertumbuhan ekonomi diperkirakan baru akan terlihat pada semester I tahun 2021," tutur Josua. kbc10

Bagikan artikel ini: