Harga cabai anjlok, Kementan tawarkan insentif cold storage

Selasa, 12 Mei 2020 | 23:30 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan dana penguatan paska panen bagi petani hortikultura, khususnya cabai. Nantinya insentif tersebut akan dipergunakan untuk menyewa cold storage (gudang pendingin) sebagai opsi mengatasi melimpahnya pasokan cabai saat ini.

Adanya penyediaan gudang diharapkan membantu petani untuk bisa menerapkan tunda jual di saat jatuhnya harga komoditas cabai. "Kita sudah susun strategi dan sosialisasikan sampai level kabupaten bahkan kecamatan. Kita akan berikan fasilitas bantuan untuk sewa gudang cold storage," kata Prihasto dalam sebuah diskusi virtual di Jakarta,  Selasa (12/5/2020).

Anton begitu biasa disapa mengatakan melalui penggunaan cold storage maka dapat menerapkan sistem tunda jual.Para petani dapat menyimpan stok cabai dan mengeluarkannya ketika pasar kembali normal.

Dengan begitu kerugian yang bisa ditimbulkan akibat anjloknya harga saat ini bisa diminimalisasi.Hanya saja, Anton menegaskan diperlukan peran dari dinas pertanian daerah untuk bisa mengelola petani dan gudang yang disewa.

Kementan, kata Anton tidak bisa untuk melakukan pendampingan secara teknis di tiap daerah."Ini solusi jangka pendek, anggaran bisa kita siapkan tapi untuk mengelola itu kita mudah, harus dinas daerah yang bergerak," tuturnya.

Pihaknya pun mengakui, persoalan harga jatuhnya harga cabai maupun komoditas hortikultura lainnya di saat panen merupakan persoalan lama yang terus menerus berulang. Karena itu, Ditjen Hortikultura baru-baru ini telah menyusun early warning system (EWS) aneka cabai dan bawang.

EWS itu digunakan Kementan untuk bisa memantau dan mengatur kegiatan tanam dan panen komoditas di tiap-tiap daerah secara terperinci. Dari situ, Kementan dapat mengetahui prognosis neraca komoditas setiap bulannya.

Hanya saja, kasus anjloknya harga cabai saat ini diluar dugaan. Secara normal, dari EWS yang telah dimiliki, persediaan cabai dan harga cabai baik di tingkat petani maupun konsumen seharusnya dapat stabil.

Namun, Covid-19 nyatanya cukup mempengaruhi permintaan konsumen terhadap cabai. "Tujuan EWS termasuk untuk mencegah terjadinya over supply. Namun yang terjadi saat ini adalah kejadian diluar kendali kami,” kata Anton.

Data Kementan mencatat produksi cabai rawit pada Mei mencapai 115.458 ton dengan daerah penghasil tertinggi di Jawa Timur sebanyak 44.090 ton. Sementara itu kebutuhan cabai rawit pada bulan ini berkisar 88.327 ton, sehingga menghasilkan surplus 27.130 ton.

Hal inilah yang menyebabkan jatuhnya harga komoditas hortikultura di tingkat petani. ”Namun, stok cabai rawit Mei hingga Juni masih aman secara nasional," kata Anton

Anton mengakui melimpahnya hasil panen tersebut tidak sebanding dengan permintaan pasar saat ini akibat kebijakan PSBB di beberapa daerah tujuan pasar. Akibatnya, memang terjadi kelebihan pasokan yang berdampak pada jatuhnya harga sehingga petani kekurangan modal untuk menanam kembali.

Kemudian pada Juni 2020 surplus cabai rawit diprediksi menurun sebesar 14.941 ton dengan produksi mencapai 98.536 ton dan kebutuhan 83.595 ton.Sudargo, petani cabai di Pati, mengaku panen cabai rawitnya hanya dihargai Rp 1.500 per kilogram, padahal dalam setengah hari ongkos panen memerlukan biaya Rp 100 ribu.

"Dalam setengah hari, panen menghasilkan 70 kilogram cabai, sehingga penghasilan petani sekitar Rp 105 ribu, hanya selisih Rp 5.000. Itu pun belum menghitung biaya transportasinya," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: