Pebisnis was-was ekonomi RI minus di kuartal II

Rabu, 6 Mei 2020 | 11:29 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kalangan pelaku usaha mengkhawatirkan pertumbuhan ekonomi Indonesia stagnan bahkan minus pada kuartal II tahun ini. Hal itu berkaca dari angka pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2020 yang hanya tumbuh 2,97 persen atau di bawah realisasi periode yang sama tahun lalu, 5,07 persen.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani mengatakan, realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal I 2020 lebih rendah dari estimasi pelaku usaha. 

Pengusaha, kata dia, sebetulnya masih menaruh harapan tinggi pada angka pertumbuhan ekonomi di tiga bulan pertama. Sebab, setidaknya kegiatan ekonomi domestik masih relatif normal di awal tahun.

Namun, pada kenyataannya, produktivitas ekonomi tidak setinggi asa di saat pasar global juga tertekan oleh pandemi virus corona.

"Ini berarti pertumbuhan kuartal II bisa nol atau minus karena tidak ada penopang pertumbuhan kegiatan ekonomi sama sekali selain pemerintah," jelasnya, Selasa (5/5/2020).

Karenanya, dia berharap penuh pada stimulus yang diberikan pemerintah untuk menggerakkan ekonomi di kuartal berikutnya. Menurutnya, pelaku usaha sektor riil sudah kehabisan cara untuk mempertahankan eksistensi di bawah tekanan pandemi.

Pandemi telah memukul seluruh sektor usaha akibat pembatasan aktivitas masyarakat di luar rumah hingga ketentuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Akibatnya, tak ada lagi penunjang kegiatan ekonomi yang menopang pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2020.

"Kami harap akan ada stimulus pemerintah yang setidaknya bisa membantu pelaku usaha dan masyarakat untuk bertahan di kuartal ini," katanya.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Bidang Perdagangan Benny Sutrisno juga meminta pemerintah untuk segera merealisasikan stimulus agar kondisi ekonomi tak makin terpuruk. Terlebih, pemerintah telah melarang mudik sehingga berdampak pada berkurangnya kegiatan ekonomi di daerah.

"Saya harap pemerintah melakukan aktivitas secepatnya kalau tidak, pertumbuhan ekonomi bisa minus di kuartal II," tuturnya.

Berbeda dengan Shinta, dia mengaku telah maklum dengan capaian pertumbuhan ekonomi kuartal I 2020. Menurutnya, secara historis pertumbuhan kuartal I tiap tahunnya lebih rendah dibandingkan dengan kuartal lainnya. Pasalnya, konsumsi masyarakat mulai merangkak naik di kuartal II, II, dan IV. Akan tetapi, untuk tahun ini, kondisinya semakin buruk akibat pandemi Covid-19. 

"Kalau tidak minus saja sudah bagus," ujarnya.

Dia menuturkan konsumsi masyarakat yang nantinya akan menggerakkan roda ekonomi tersebut sangat bergantung dari stimulus dari pemerintah. Semakin cepat dan semakin besar nilai, kata dia, tentu lebih banyak memberikan tenaga pada pertumbuhan ekonomi. Sejalan dengan itu, pemerintah juga harus memastikan penanganan Covid-19 sehingga pandemi itu cepat berakhir. kbc10

Bagikan artikel ini: