BI hati-hati pangkas suku bunga acuan kembali

Rabu, 8 April 2020 | 11:56 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Bank Indonesia (BI) menyatakan masih memiliki ruang untuk melakukan penurunan suku bunga acuan. Pada Rapat Dewan Gubernur Maret 2020 lalu, BI telah menurunkan suku bunga acuannya menjadi 4,5 persen.

Ruang penurunan suku bunga itu terbuka lantaran inflasi pada Maret lalu terpantau pasih cukup rendah, yaitu di angka 0,1 persen. "Tapi apakah kita akan melakukan? BI akan hati-hati karena kondisi pasar keuangan masih tidak pasti," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo melalui keterangannya, Selasa (7/4/2020).

Dia mengatakan, prioritas BI sekarang adalah stabilitas rupiah. Perry melihat pergerakan rupiah kini cukup stabil dan cenderung menguat. Ia mengatakan bank sentral terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas kurs, antara lain dengan melakukan intervensi. Misalnya melalui pembelian surat berharga negara di pasar sekunder.

"Mari kita stabilkan nilai tukar rupiah sehingga stabil dan cenderung menguat sehingga ke arah 15 ribu per dolar akhir tahun ini," ujar Perry. Saat ini, Bank Indonesia memandang bahwa tingkat nilai tukar Rupiah dewasa ini relatif memadai dan secara fundamental undervalued.

Perry mengatakan pada penutupan perdagangan kemarin rupiah menguat 1,56 persen ke angka 16.125 per dolar Amerika Serikat. Rupiah sempat bergerak melemah pada pekan lalu, kata dia, lantaran adanya misinterpretasi publik terhadap pengumuman Komite Stabilitas Sistem Keuangan.

Ia pun mengatakan  bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani telah menjalin komunikasi dengan investor global. Sehingga, mekanisme pasar di pasar keuangan kini diklaim sudah berjalan baik, dari segi penawaran dan permintaan.

Belakangan cadangan devisa Indonesia menipis pada akhir Maret 2020, salah satunya lantaran digelontorkan untuk stabilisasi nilai tukar sekitar US$ 7 miliar. Bank Indonesia mencatat pada periode tersebut cadangan devisa Indonesia adalah sebesar US$ 121 miliar alias lebih rendah dari posisi akhir Februari 2020 yang US$ 130,4 miliar.

Di samping itu, Bank Indonesia juga melakukan quantitative easing (QE) dengan memberi likuiditas tambahan sebesar Rp300 triliun. Perry mengharapkan fasilitas itu segera bisa dimanfaatkan oleh sektor riil. kbc10

Bagikan artikel ini: