KKP merespon dampak Covid-19 bagi usaha perikanan

Minggu, 29 Maret 2020 | 20:57 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (PDSPKP KKP ) terus melakukan pemantauan ketersediaan, perkembangan pasokan dan harga ikan di Indonesia. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi dampak Covid-19 terhadap usaha perikanan.

Lokasi pemantauan yang telah dilakukan diantaranya Bali, DKI Jakarta, Surabaya, Kendari, Purwakarta, Bekasi, Pekalongan, Trenggalek, Malang, Cilacap, Indramayu, Tegal, Gunung Kidul, Bitung, Makasar, dan Kota Ternate. Nantinya akan berlanjut ke lokasi sentra produksi dan pengolahan ikan lainnya.

"Saat ini pemantauan dilakukan melalui telekomunikasi dengan berbagai sumber antara lain pihak pelabuhan perikanan, sentra produksi budidaya, eksportir, pengelola gudang beku dan pasar retail," kata Dirjen PDSPKP KKP Nilanto Perbowo di Jakarta, Minggu (29/3/2020).

Nilanto menambahkan Ditjen PDSPKP telah melaporkan beberapa strategi kepada Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo melalui video conference pada Kamis 26 Maret 2020. Tujuan adanya strategi ini untuk menjaga stabilitas harga, sehingga pelaku usaha dapat terhindar dari kerugian dan produksi ikan terserap.

"Pelaksanaan strategi adalah berupa kerja sama dengan Kemensos agar terjadi sinergi yang berdampak langsung di masyarakat berupa penyaluran bahan baku ikan segar dan olahan dengan cara Bantuan Pangan Non Tunai, yang sebagian dari itu dapat dibelikan ikan," jelas dia.

Menurutnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo memastikan akan segera menghubungi Menteri Sosial, Juliari P Batubara. Hal ini dilakukan untuk mendorong percepatan terlaksananya strategi tersebut.

Strategi lain yang juga disiapkan KKP adalah optimalisasi pelaksanaan Sistem Resi Gudang (SRG) ikan atau dikenal dengan sistem tunda jual.Dengan begitu, pada saat harga turun, nelayan dan pembudidaya ikan tidak mengalami kerugian dengan menitipkan produknya di Gudang Beku (cold storage) yang ditunjuk dalam SRG dan dapat menjualnya kembali saat harga membaik.

Bahkan resi dari penitipan ikan di Gudang Beku, dapat dijaminkan ke lembaga pembiayaan untuk mendapatkan dana tunai sebagai modal usaha. "Lalu penyerapan ikan dalam rangka program Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan," tambah Nilanto.

Di tengah wabah Covid ini, Nilanto mengingatkan masyarakat untuk tetap mengonsumsi ikan, bahkan lebih ditingkatkan lagi. Ikan dengan kandungan gizinya yang tinggi merupakan asupan yang pas untuk membantu tubuh agar tetap sehat guna menangkal serangan virus corona.

"Selain berguna menyehatkan tubuh, dengan mengonsumsi ikan kita juga telah membantu nelayan, pembudidaya, pengolah dan pemasar ikan untuk tetap memperoleh penghasilan ditengah situasi yang sulit ini," ujar Nilanto

Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) menilai kebijakan pemerintah belum sepenuhnya memerhatikan nasib Nelayan yang terdampak wabah Covid-19.

Sebelumnya,Sekjen Koalisasi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) Susan Herawati mengatakan pemerintah belum sepenuhnya memperhatikan nasib nelayan yang terdampak wabah Covid 19 . Menurutnya setelah ditetapkan sebagai episentrum Covid-19, tempat pelelangan Ikan (TPI) di Muara Angke sepi dan akan ditutup sampai dengan waktu yang belum diketahui waktunya. Akibatnya, banyak Nelayan di kawasan ini memutuskan untuk tidak melaut.

Susan mengatakan, apa yang terjadi saat ini semakin menyulitkan kehidupan Nelayan, ditambah lagi dengan meningkatnya harga sembako yang dijual di pasar setelah masifnya penyebaran Covid -19 di DKI Jakarta. Kondisi Nelayan Muara Angke khususnya gang kerang hijau sekarang semakin sulit persediaan untuk logistik harian.

"Kami harus menghitung perbedaan pemasukan dan pengeluaran yang sangat besar. Jika kami memaksakan diri untuk melaut, lebih banyak pengeluarannya daripada pemasukan dari menjual Ikan. Harga Ikan saat ini benar-benar jatuh. Kehidupan Nelayan semakin sulit," ucapnya

Dampak kebijakan penanganan Covid-19 juga dirasakan betul kelompok Nelayan di Pulau Pari, Kepulauan Seribu DKI Jakarta. Setelah Jakarta ditetapkan sebagai episentrum Covid-19, pariwisata di Pulau Pari tutup sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Perekonomian masyarakat yang tergantung kepada pariwisata mulai melemah.

Menurutnya masyarakat mulai khawatir jika stok bahan pokok dan pangan utama mereka di Pulau Pari mulai menipis, karena suplai mereka sangat tergantung dari Jakarta. Pada saat yang sama, penyebrangan perahu akan segara ditutup untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Susan menyatakan saat ini harga Ikan menurun drastis. Ia menyebut harga cumi laut yang biasanya dijual Rp 80 ribu, kini hanya Rp 40 ribu. Sementara itu, harga cumi karang yang biasanya dijual Rp 50 ribu menjadi Rp20 ribu saja.kbc11

Bagikan artikel ini: