Penerapan WFH dan social distancing, trafik kendaraan di jalan tol turun 60%

Kamis, 26 Maret 2020 | 13:14 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Imbauan pemerintah terkait bekerja dari rumah atau work from home (WFH) serta social distancing guna mencegah penyebaran virus corona atau Covid-19 berdampak pada penurunan trafik kendaraan di jalan tol.

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Danang Parikesit mengatakan, terjadi penurunan lalu lintas di jalan tol dalam dua hingga tiga pekan terakhir ini 10% hingga 60%.

"Kami masih mengumpulkan datanya, tapi dari informasi yang masuk ke kami, penurunan berkisar antara 10% hingga 60%, berbeda-beda untuk berbagai ruas. Kami masih memantau terus karena DKI Jakarta menghapus Ganjil Genap, inisiatif WFH, dan protokol kesehatan pengemudi serta kebersihan kendaraan yang semakin baik. Masih sangat dinamis," ujar Danang, Selasa (24/3/2020).

Danang menjelaskan, untuk mengantisipasi dampak dari kondisi pandemi Covid-19 dan ekonomi yang penuh ketidakpastian, menurutnya perlu langkah tepat untuk menjaga kepercayaan investor dalam bisnis jalan tol. "Para investor menginginkan pemerintah untuk lebih cepat dan taktis menangani Covid-19. Ini juga akan meningkatkan investor confidence," ujarnya.

Sementara itu Sekretaris Jenderal Asosiasi Jalan Tol Indonesia (ATI) Kris Ade Sudiyono mengatakan, beberapa Badan Usaha Jalan Tol sudah menginformasikan penurunan trafik khususnya sejak pemerintah mengeluarkan himbauan untuk bekerja dari rumah guna mencegah penyebaran Covid-19.

Menurut Kris, terkait dampak terhadap lalulintas di jalan tol, pihaknya belum memiliki data yg komprehensif terkait pengaruh Covid 19 terhadap trafik di jalan tol.

"Namun secara umum, beberapa BUJT sudah menginformasikan bahwa terjadi penurunan trafik khususnya sejak pemerintah mengeluarkan himbauan untuk melakukan work from home. Jika melihat tren nya, penurunan ini terjadi di minggu-minggu awal hanya di kisaran 3% sampai dengan 5%, tetapi mulai meningkat di akhir pekan 10% hingga 15% laju penurunannya per hari. Kita masih menunggu update kondisi trafik terbaru," ujar Kris

Kris menjelaskan, dampak yang paling terasa adalah di jaringan tol di Metro Area yang umumnya didominasi oleh lalulintas komuter. "Kita akan memonitor kondisi dinamis trafik ini terus menerus, termasuk mitigasi dampak bisnisnya secara jangka panjang," katanya.

Ia menambahkan, prioritasnya saat ini adalah tetap melayani masyarakat dengan sebaik mungkin, sembari terus mengkampanyekan upaya-upaya menjaga kesehatan dan keselamatan baik karyawan, mitra kerja, maupun masyarakat pengguna jalan tol.

"Berbagai protokol pencegahan dan penanganan Covid-19 telah disiapkan. Kami terus melakukan upaya-upaya pencegahan dengan berbagai upaya, seperti melengkapi petugas dengan perlengkapan standar keselamatan, melakukan penyemprotan desinfektan secara berkesinambungan, serta melengkapi diri dengan berbagai peralatan yang dibutuhkan dalam kondisi darurat," kata Kris.

Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan PT Jasa Marga Tbk (JSMR) Agus Setiawan mengungkapkan, per hari Jumat (20/3) terlihat adanya penurunan pergerakan kendaraan di ruas-ruas tol Jasa Marga, dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya.

Agus menjelaskan, ruas tol yang mengalami penurunan volume kendaraan secara signifikan yaitu Tol Bali-Mandara, tol Bandara-Sedyatmo, tol Kunciran-Serpong dan tol Kunciran-Cengkareng. "Penurunan terjadi di ruas tol Bali Mandara, Kunciran Serpong, Kunciran Cengkareng, dan tol Bandara termasuk yang paling signifikan mengalami penurunan," ujarnya.

Agus menjelaskan, di ruas tol lain juga terjadi penurunan pergerakan kendaraan secara bervariasi tapi tidak begitu signifikan dibandingkan dengan keempat ruas tol tersebut. "Secara keseluruhan penurunan volume lalu lintas di ruas tol yang dioperasikan Jasa Marga mengalami penurunan yang bervariasi, dengan kisaran penurunan sampai 10%," ungkapnya.

Selain itu, Lanjut Agus, ruas tol yang relatif tidak terdampak dengan volume pergerakan kendaraan normal antara lain, tol Palimanan-Kanci dan ruas tol Balikpapan-Samarinda. Sementara pada hari-hari sebelumnya, Agus mengungkapkan volume lalu lintas Jakarta-Cikampek dan Trans Jawa masih relatif normal, tidak ada perubahan pergerakan yang signifikan.

"Sebagai referensi, volume transaksi di gerbang-gerbang tol Jakarta-Cikampek sekitar 220.000 transaksi dalam satu arah, atau 440.000 untuk kedua arah. relatif tidak berbeda dengan kondisi normal," katanya. kbc10

Bagikan artikel ini: