Ocean FarmITS, akuakultur ekowisata bahari terapung pertama di Indonesia

Kamis, 5 Maret 2020 | 19:14 WIB ET
Dr Eng Yeyes Mulyadi ST MSc selaku Ketua Tim Ocean FarmITS saat memberi penjelasan pada soft launching Ocean FarmITS di Malang.
Dr Eng Yeyes Mulyadi ST MSc selaku Ketua Tim Ocean FarmITS saat memberi penjelasan pada soft launching Ocean FarmITS di Malang.

SURABAYA, kabarbisnis.com: Tim dosen Departemen Teknik Kelautan bersama Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sukses menciptakan terobosan anyar di sektor maritim, yakni bangunan budidaya ikan (akuakultur) rangkap ekowisata bahari terapung pertama di Indonesia yang dinamakan Ocean FarmITS.

Menurut Nur Syahroni ST MT PhD, salah satu tim dosen, terobosan inovatif ini berangkat dari masalah penurunan hasil tangkap nelayan di sekitar Teluk Sidoasri, Malang. Lokasi yang akan diletakkan Karamba Jaring Apung (KJA) ini, menurutnya, berpotensi untuk budidaya ikan laut besar. 

“Bukan sembarang bangunan akuakultur di tengah laut, Ocean FarmITS dirancang sedemikian rupa sehingga mampu menjadi wisata bahari seperti hotel di bagian atas bangunan,” katanya melalui keterangan tertulis, Kamis (5/3/2020).

Selain dari aspek pariwisata, lanjut Roni, sapaan akrabnya, Ocean FarmITS juga dirancang dengan mempertimbangkan masalah lingkungan akibat pencemaran sisa pakan ikan hasil budidaya. Tidak heran, proyek yang dirancang di lepas pantai (offshore) juga mampu bertahan stabil menghadapi kondisi yang terbilang ekstrem.

“Ditambah lagi, bangunan offshore seperti ini merupakan ilmu utama yang dipelajari di departemen kami (Teknik Kelautan ITS, red),” ujarnya.

Dosen pengampu mata kuliah Dinamika Struktur ini menjelaskan bahwa proyek ini merupakan lanjutan dari rintisan Pusat Studi Kelautan ITS sebelumnya. Roni, yang kala itu memimpin pusat studi tersebut, mulai menggagas proyek ini bersama rekan jurusannya pada 2016 dan berhasil masuk ke tahap perancangan pada 2017. “Karena (Ocean FarmITS) ini perlu andil multidisiplin keilmuan, maka digarap oleh beberapa departemen di bawah pusat studi tersebut,” ungkapnya.

Kolaborasi antara Teknik Kelautan, Biologi, Desain Interior, Desain Komunikasi Visual (DKV), dan Teknik Industri ini digadang-gadang Roni mampu menjadi salah satu karya unggulan ITS. Tidak tanggung-tanggung, hingga soft launching bangunan yang turut disokong oleh PT Pertamina ini saja sudah menghabiskan dana sekitar Rp 1,3 miliar. 

Roni dan tim percaya jika proyek ini akan membawa dampak positif tidak hanya bagi ITS, tetapi juga masyarakat sekitar. Konsep budidaya dan wisata yang ditonjolkan, ditargetkan harus melibatkan masyarakat di wilayah sekitar pantai (Sidoasri). Melihat potensi lokasi yang besar akan tetapi masih terpencil, Roni berharap agar proyek ini dapat menjadi daya tarik wisatawan. “Sehingga perekonomian masyarakat dapat semakin baik,” imbuhnya berharap.

Proses pendaftaran Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) dari proyek ini sendiri sudah dilakukan oleh Roni dan tim. Tidak hanya itu, mereka juga sedang mengurus pendaftaran desain industri produk dan merek dagang atas nama Ocean FarmITS. “Setelah ini selesai, kami juga akan mendaftarkan paten atas beberapa komponen yang ada di dalam bangunan terapung ini,” jelasnya.

Saat ini, Ocean FarmITS sedang menunggu penyelesaian proses fabrikasi komponen. Setelah itu, komponen akan dirakit di pantai dekat lokasi dan dibawa langsung ke titik yang sudah ditentukan. Menurut Roni, pada April mendatang, KJA akan di-launching kepada publik. Setelah resmi dapat digunakan, struktur ini diharapkan tidak hanya digunakan oleh wisatawan dan masyarakat sekitar. “Namun juga dapat menjadi laboratorium lapangan bagi mahasiswa,” tandasnya. kbc7

Bagikan artikel ini: