Pemerintah optimalisasi pemanfaatan gas domestik

Rabu, 4 Maret 2020 | 16:45 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah memastikan terus mengoptimalkan pemanfaatan gas di dalam negeri. Untuk mendukung hal tersebut, upaya-upaya penemuan sumber cadangan gas baru terus dilakukan. Juga, mentransfer resources menjadi cadangan terbukti.

Hal ini diungkapkan Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM sekaligus Plt. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Ego Syahrial, yang hadir mewakili Menteri ESDM, membuka Indopacific LNG Summit di The Trans Resort, Bali, Selasa (3/3/2020).

"Ke depannya, gas menjadi masa depan energi hijau bersama dengan energi terbarukan. Transisi dari bahan bakar fosil ke gas jadi solusi untuk tantangan global saat ini," kata Ego melalui siaran pers, Rabu (4/3/2020).

Sejalan dengan hal tersebut, lanjut Ego pemerintah memiliki kebijakan untuk menyusutkan dominasi energi minyak dan meningkatkan pemanfaatan gas.Berbagai upaya diambil pemerintah untuk mendukung transformasi tersebut. Selain penemuan cadangan gas dan mentransfernya menjadi cadangan terbukti, pemerintah saat ini juga sedang menggenjot pembangunan infrastruktur pasokan gas.

"Kami juga ingin memastikan dan menjaga agar kegiatan hulu gas tetap menarik bagi investor," ungkap Ego.

Menurut data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), investasi hulu migas sempat merosot dari 2015-2017. Investasi migas sempat menyentuh US$15,30 miliar, namun kemudian terus turun sampai US$10,27 miliar pada 2017.

Investasi kembali tumbuh positif dari 2017–2019. Pada 2018 tumbuh 7,11% dari tahun sebelumnya. Namun, pertumbuhannya melambat pada 2019 hingga mencapai US$11,49 miliar atau naik 4,45% dari 2018.Dari total investasi selama lima tahun tersebut, porsi investasi produksi rata-rata per tahun mencapai 72,49%. Sementara, investasi eksplorasi untuk menemukan cadangan baru rata-rata per tahun hanya 6,15%.

Dirjen Ego juga menyampaikan pesan dan arahan Menteri ESDM agar forum Indopacific LNG Summit ini dapat menghasilkan hal-hal yang konkrit untuk pengembangan industri gas di dalam negeri.

Pada acara yang digelar oleh Indonesia Gas Society (IGS) dan mengangkat tema "Shaping the Future" tersebut para peserta yang terdiri dari pelaku industri gas dalam dan luar negeri membahas potensi kerja sam. Juga, masa depan industri gas di kawasan Indopasifik, khususnya Asia Tenggara dan Asia Selatan.

Chairman Indonesia Gas Society, Didik Sasongko pada kesempatan yang sama, melihat Indonesia memiliki potensi dan kesempatan yang besar dalam menjawab tantangan kebutuhan industri gas global.

"Diperlukan strategi yang matang untuk menjawab tantangan itu, diantaranya dengan meninjau permintaan dan ketersediaan pasokan gas regional dan global. Tren mendatang seputar kontrak penjualan gas jangka panjang dan pendek, serta tentunya harga gas itu sendiri," kata Didik

Untuk diketahui, harga gas di hulu berkisar antara US$3,5 hingga US$8,20 per MMBTU, tergantung dari lokasi sumber gas di sektor hulu. Harga gas dari lapangan di Sumatra Selatan misalnya, berbeda dengan Jawa Barat atau Jawa Timur.

Harga gas dari hulu di Jawa Barat paling mahal tercatat sebesar US$8,2 per MMBTU. Sedangkan harga di Sumatera Selatan paling mahal US$6,55 per MMBTU. Harga gas hulu tersebut ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan Permen ESDM 06/2016 yang mempertimbangkan 3 variabel utama, terdiri keekonomian lahan, harga gas dalam dan luar negeri dan nilai tambah pemanfaatan gas bumi di dalam negeri.

Dari data-data harga tersebut, rata-rata harga gas hulu mencapai US$5,9 per MMBTU, ditambah biaya infrastruktur dan niaga sebesar US$4 per MMBTU maka harga jual gas industri existing mencapai sebesar US$9,9. Untuk mencapai harga gas industri menjadi US$6 per MMBTU, maka harus ada pengurangan sebesar US$3,9 per MMBTU.

Kalau menggunakan opsi melepas jatah pemerintah sebesar US$2,20 per MMBTU, maka harga gas di hulu menjadi sebesar US$3,7, yakni harga rata-rata US$5,9 dikurangi jatah pemerintah US$2,20 per MMBTU. Dengan asumsi biaya infrastruktur dan niaga tetap sebesar US$4 per MMBTU, maka harga gas Industri masih berada di level US$7,7 per MMBTU.

Untuk mencapai harga gas industri menjadi US$6 per MMBTU maka setelah pengurangan in take, masih harus ada pengurangan sebesar US$1,7 per MMBTU.Alternatifnya, pengurangan sebesar itu bisa dibebankan pada kontraktor kontrak kerja sama (K3S) atau dibebankan pada biaya infrastruktur dan niaga secara proporsional. Pembebanan baik pada K3S maupun pada biaya infrastruktur dan niaga, akan memberikan dampak terhadap industri gas di tanah air.kbc11

Bagikan artikel ini: