Erick Thohir bakal 'suntik mati' 10 BUMN sekarat

Jum'at, 21 Februari 2020 | 07:56 WIB ET
Menteri BUMN Erick Thohir
Menteri BUMN Erick Thohir

JAKARTA, kabarbisnis.com: Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir bakal tegas untuk melakukan bersih-bersih perusahaan pelat merah. Khususnya terhadap perusahaan yang terus merugi, kementeriannya bakal melakukan penutupan (likuidasi) atau merger (penggabungan).

Hanya saja, saat ini pihaknya masih meninjau kembali kondisi atau kinerja seluruh BUMN agar diketahui ada berapa yang berstatus dead-weight atau 'sekarat'. Ia menegaskan, pihaknya tak mau asal menutup.

"Ya kan nggak bisa grasa-grusu. Maksudnya kalau sudah dapat, sekarang kan kita sudah mulai mapping. Tapi yang pasti mungkin kalau itu dapat, 5-10 bisa langsung," kata Erick usai Rapat Koordinasi Nasional Investasi di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Kamis (20/2/2020).

Untuk melaksanakan dua opsi tersebut, Erick masih menunggu terbitnya Peraturan Presiden (Perpres). "Kalau dapat Perpresnya untuk bisa me-merger dan likuidasi baru kita mapping," ujar Erick.

Seharusnya, Perpres untuk menetapkan nasib para BUMN sekarat ini terbit pekan ini. Namun, karena ada hambatan mungkin akan terbit pekan depan.

"Kemarin. Ya kemarin targetnya. Targetnya kemarin. Cuma karena belum ya nunggu minggu depan," tuturnya.

Meski berhati-hati, Erick juga tak mau proses pembersihan BUMN sekarat ini berjalan terlalu lama. Harapannya, BUMN ini bisa dilikuidasi atau di-merger sebelum pertengahan 2020. "Kalau bisa lebih cepat," ucapnya.

Terkait peninjauan atau pemetaan kinerja BUMN, sebelumnya Erick dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI mengatakan bahwa diperlukan waktu 1-2 bulan.

"Dari 142 BUMN, dengan tadi persetujuan Komisi VI kita mapping dengan empat kategori, yang memang sangat bisnis, mana bisnis tapi juga kepada masyarakat maksimal, tapi ada yang ke masyarakat sangat maksimal, dan juga kondisi tidak jelas dengan keuangan merosot itu yang kita akan mapping-kan. Dari 142 perlu waktu satu-dua bulan baru kelihatan," jelasny.

Dalam catatannya, salah satu perusahaan yang menyandang status sekarat itu ialah PT PANN. Pasalnya, perusahaan ini hanya memiliki 7 karyawan.

Erick juga menyebut beberapa BUMN yang dalam posisi tidak sehat, seperti PT Industri Sandang Nusantara (Persero), PT Kertas Kraft Aceh (Persero) dan beberapa perusahaan lain. kbc10

Bagikan artikel ini: