Bandingkan dengan Angkor Wat, DPR minta BUMN pengelola candi lebih inovatif

Kamis, 6 Februari 2020 | 08:38 WIB ET

JAKARTA – Anggota Komisi VI DPR RI Mufti Anam meminta BUMN PT Taman Wisata Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (Persero) untuk lebih giat berinovasi agar bisa memacu kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman). 

”Borobudur sebagai penyandang status Situs Warisan Dunia UNESCO sebenarnya punya potensi besar. Tapi saya melihat belum ada inovasi dalam pengelolaannya oleh BUMN. Walhasil, kunjungan wisman-nya belum tinggi-tinggi amat,” ujar Mufti Anam.

Mufti menjelaskan, dalam setahun, Candi Borobudur dikunjungi sekitar 300.000 wisatawan mancanegara. Tahun 2018 hanya 308 ribu, meleset jauh dari RKAP yang menargetkan 399 ribu. 

”Ini terbilang sangat minim. Mari bandingkan dengan Angkor Wat, candi di Kamboja yang sama-sama menyandang status Situs Warisan Dunia UNESCO. Dalam setahun, Angkor Wat itu dikunjungi lebih dari 2,7 juta wisman. Berapa kali lipatnya itu? Hampir 10 kali lipat dibanding wisman ke Borobudur,” jelas politisi PDI Perjuangan tersebut.

Mufti berharap manajemen BUMN pengelola taman wisata candi bisa lebih kreatif dan inovatif untuk bisa mendatangkan wisman lebih banyak lagi.

”Saya melihat perlu dipacu inovasinya. Andai tak ada intervensi pemerintah pusat karena Borobudur masuk lima destinasi super prioritas, pasti BUMN akan business as usual. Ini tantangan bagi Pak Erick Thohir dan manajemen BUMN pariwisata karena salah satu perhatian Presiden Jokowi adalah sektor tourism,” papar Mufti yang juga ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jatim.

Mufti pun mengusulkan untuk lebih mendorong pengembangan Candi Borobudur sebagai pusat peribadatan umat Buddha dunia. ”Sehingga sekaligus kita tunjukkan kepada dunia betapa beragamnya Indonesia, betapa kebhinnekaan dijaga sepenuh hati. Selain tentu saja itu nantinya berdampak ke peningkatan wisman dan ekonomi rakyat,” jelas anggota DPR kelahiran Banyuwangi itu.

Mufti Anam mengingatkan BUMN pengelola taman wisata candi agar tidak kehilangan momentum, yaitu beroperasinya Yogyakarta International Airport dalam waktu tak lama lagi.

”Harus bisa datangkan wisman lebih besar. Kemudian, juga perlu atraksi inovatif. Saya melihat tourism event BUMN dan mitranya belum optimal. Jadi tourism event-nya itu hanya menjadikan kelas menengah Indonesia sebagai pasar yang ditarik ke Borobudur atau Prambanan. Belum bisa gaet wisman optimal, karena kemasan dan daya tarik event-nya belum menarik,” pungkas Mufti. kbc9

Bagikan artikel ini: