Perbankan mulai injak gas kredit modal kerja di tahun ini

Senin, 3 Februari 2020 | 08:28 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Usai menghadapi kinerja yang cenderung melambat di tahun lalu, industri perbankan di Tanah Air mulai menginjak gas penyaluran kredit di tahun ini.

Jika merujuk survei perbankan Bank Indonesia (BI) tahun ini kemungkinan besar segmen kredit modal kerja (KMK) bakal lebih menggeliat.

Survei tersebut menyatakan, prioritas utama responden dalam penyaluran kredit baru di triwulan I-2020 adalah KMK, yang kemudian diikuti oleh kredit investasi dan kredit konsumsi.

Jika dirinci, indeks lending standard per jenis kredit menunjukkan KMK meningkat dari 11% di kuartal IV 2019 menjadi 12,5% di kuartal I 2020. Responden memandang, perkiraan kinerja kredit di 2020 akan lebih optimis, terutama ditopang dari kondisi moneter dan ekonomi, serta relatif terjaganya risiko penyaluran kredit.

Sejumlah bank pun mengatakan hal serupa. PT Bank OCBC NISP Tbk misalnya yang menyebut bahwa sejauh ini KMK memang masih menjadi kontributor terbesar dalam penyaluran kredit perusahaan.

Presiden Direktur OCBC NISP Parwati Surjaudaja mengatakan, hingga akhir 2019 lalu KMK memberikan kontribusi sekitar 48% dari total kredit bank.

"Kami menilai KMK masih punya potensi, terlebih dengan sentimen positif yang ditunjukkan oleh pasar dan pelaku usaha pada tahun 2020," katanya, Minggu (2/2/2020).

Di sisi lain, bank bersandi saham NISP ini juga memproyeksi di tahun 2020 ekonomi dalam negeri mulai menggeliat.

Praktis, akan banyak pelaku usaha khususnya debitur perseroan yang membutuhkan KMK. Sebagai informasi saja, sepanjang tahun 2019 lalu OCBC NISP mencatatkan realisasi kredit Rp 118,65 triliun. Angka tersebut hanya tumbuh tipis dari tahun sebelumnya Rp 117,4 triliun atau baru naik 1,06% secara year on year (yoy).

Di tempat terpisah, Direktur Keuangan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) Ferdian Timur Satyagraha menyebut, bukan hanya KMK saja yang akan menggeliat melainkan kredit produktif secara keseluruhan.

Pasalnya, menurut Ferdian, di tahun 2020 akan ada banyak potensi kredit korporasi dan komersial yang bisa digali perusahaan. Terutama untuk pembiayaan pembangunan infrastruktur di wilayah Jawa Timur.

Di sisi lain, tahun 2020 memang akan menjadi momentum Bank Jatim untuk mendorong kredit lebih deras. Bank bersandi saham BJTM ini menargetkan kredit dapat tumbuh 14% secara yoy dengan kredit produktif sebagai ujung tombaknya.

Sebagai gambaran saja, tahun lalu Bank Jatim mencatatkan realisasi kredit sebesar 13,16% secara yoy menjadi Rp 38,35 triliun. Jika dirinci, kredit produktif menyumbang sekitar 39,76% dari total kredit Bank Jatim yakni sebesar Rp 15,24 triliun.

Realisasi kredit produktif ini mengalami peningkatan sebesar 23,71% dari periode tahun sebelumnya. Mayoritas peningkatan ini didorong oleh realisasi pada kredit sindikasi yang naik 118,98% yoy tahun 2019 lalu.

Sekadar diketahui, Bank Indonesia mencatat, per Desember 2019 total realisasi KMK baru sebesar Rp 2.558,2 triliun atau baru meningkat 2,2% yoy. Jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan kredit investasi yang naik 12,8% atau kredit konsumer sebesar 5,9%. kbc10

Bagikan artikel ini: