Pulsa ponsel masuk komoditas baru nasional

Rabu, 29 Januari 2020 | 10:50 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 20 komoditas nasional yang memiliki bobot tertinggi hasil Survei Biaya Hidup (SBH) 2018. Jumlah komoditas tersebut mencakup 90 kota, 34 ibukota provinsi dan 56 kabupaten/kota serta cakupan sampel 14.160 blok sensus dan 141.600 rumah tangga.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, jumlah komoditas nasional merupakan hasil pengamatan adanya perubahan pola konsumsi yang mencerminkan keadaan terkini. “Ketika pendapatan naik, teknologi naik ada pergerakan konsumsi,” ujarnya pada acara Sosialisasi Permutakhiran Diagram Timbang Indeks Harga Konsumen (IHK) dan Nilai Tukar Petani (NTP) di Gedung BPS, Jakarta, Selasa (28/1/2020).

Suhariyanto merinci, lima komoditas nasional tertinggi antara lain komoditas sewa rumah memiliki bobot tertinggi sebesar 4,66 persen, komoditas kontrak rumah sebesar 4,60 persen, komoditas tarif listrik sebesar 3,96 persen, komoditas bensin sebesar 3,78 persen dan komoditas beras sebesar 3,33 persen.

Kemudian disusul, komoditas biaya pulsa ponsel sebesar 2,54 persen, komoditas akademi sebesar 2,07 persen, komoditas mobil sebesar 2,01 persen, komoditas nasi dengan lauk sebesar 1,87 persen dan komoditas bahan bakar rumah tangga sebesar 1,85 persen.“Pada 2012 dulu orang masih ke warnet, sekarang bisa lewat hape. Warnet tutup dan biaya kirim surat karena sekarang tidak perlu lagi out. Ada komoditas baru yang diakomodir, charger, asesoris hape, untuk beli power bank dan juga kendaraan online. Intinya kita berusaha menangkap fenomena yang terkini lah yang betul dikonsumsi masyarakat,” ucapnya.

Menurut Suhariyanto munculnya 20 komoditas nasional cukup mendorong perekonomian dalam negeri. Sebab, kebutuhan primer sekarang ini berasal dari langganan internet. “Beberapa iya (shifting ke perekonomian) pulsa sekarang naik, langganan internet naik dan sekarang juga jadi kebutuhan primer gitu kan ya kelihatannya,” jelasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: