Pemerintah bidik 17 juta turis ke Indonesia di tahun ini

Kamis, 16 Januari 2020 | 19:59 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menargetkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) alias turis ke Indonesia sebanyak 17 juta orang pada 2020 ini. Angka ini lebih rendah dari yang ditargetkan pada 2019 sebesar 18 juta jiwa.

Asisten Deputi Investasi Pariwisata Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata, Hengky Manurung menjelaskan, target pada tahun ini sedikit diturunkan mempertimbangkan realisasi pada tahun lalu yang tidak tercapai. Di mana, dari target sebanyak 18 juta wisman diperkirakan hanya terealisasi 16,4 juta kunjungan sepanjang 2019.

"Saya pribadi hanya berani bilang mungkin 17 juta dulu. Jadi kita bilang moderat nya aja daripada nanti saya bilang 20 juta salah di media, kita bicara 17 juta aja karena tahun ini mungkin hanya 16,4 kurang lebih yang bisa kita capai," katanya di Jakarta, Kamis (16/1/2020).

Dia mengatakan, negara-negara Asean masih menjadi target bidikan pemerintah untuk dapat mengunjungi pariwisata di Indonesia. Namun, pihaknya juga mengusahakan untuk mengejar wisman di Benua Amerika dan Eropa.

"Karena mereka benar-benar wisatawan yang memiliki keinginan untuk berlama-lama tinggal di sebuah daerah, jadi itu yang kita kejar ke depannya tapi tahun ini mulai bergerak," jelas dia.

Selama ini, sektor pariwisata Indonesia fokus untuk mendatangkan sebanyak mungkin wisatawan mancanegara (wisman) atau turis. Namun, di bawah kendali Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio, pariwisata banting setir ke segmen wisatawan berkualitas.

Dia mengatakan, fokus pada wisatawan premium atau berkualitas ketimbang pariwisata massal berbasis kuantitas. Wishnutama juga menegaskan ingin turis asing yang datang ke Indonesia adalah wisman dengan kualitas premium.

"Wisman yang datang ke Indonesia per tahun lebih banyak, tetapi pengeluaran lebih sedikit. Meningkatkan kualitas wisatawan yang datang ke Indonesia itu lebih penting, sehingga pengeluaran mereka pada saat di Indonesia lebih tinggi," ujar Wishnutama beberapa waktu lalu.

Oleh karena itu, dia fokus untuk menggarap wisman berkualitas dengan tingkat pengeluaran yang lebih tinggi sehingga diharapkan bisa menggenjot penerimaan devisa negara dari sektor pariwisata. Pria yang akrab dipanggil Tama itu membandingkan kualitas turis asing di Indonesia dan Selandia Baru.

"Sekarang spending wisman di kita kira-kira USD 1.220, Selandia Baru hampir USD 5.000 per kedatangan, artinya apa? Kualitas wisatawan yang datang ke Selandia Baru lebih tinggi walaupun jumlah wisatawannya cuma empat juta," lanjutnya.

Selama ini, pengembangan pariwisata cenderung ditekankan pada kuantitas dengan target bisa mendatangkan sebanyak-banyaknya wisman. Bahkan pada 2020, sempat ditargetkan pariwisata Indonesia bisa mendatangkan 20 juta wisman.

Padahal dampak pariwisata massal kerap kali mendatangkan kerugian dari sisi kerusakan alam dan lingkungan. "Dari jumlah turis sebanyak itu, bayangkan berapa jumlah sampah yang harus kita tangani," kata Wishnutama.

Untuk mendukung perolehan devisa dari sektor pariwisata, Kabinet Indonesia Maju di bawah Presiden Jokowi telah menggagas pengembangan lima Destinasi Super Prioritas, yaitu Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang.

Pembangunan infrastruktur untuk mendukung akses dan amenitas di destinasi tersebut pun ditargetkan rampung pada 2020, yang kini oleh pemerintah terus dilakukan pembangunannya. kbc10

Bagikan artikel ini: