BEI ungkap ada 41 'saham gorengan' sepanjang 2019

Sabtu, 11 Januari 2020 | 10:45 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat terdapat 41 saham yang terindikasi menjadi ajang goreng-menggoreng saham sepanjang 2019. Nilai transaksi harian dari saham-saham tersebut pun terbilang cukup besar.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono Widito Widodo mengatakan, 41 saham gorengan itu memiliki nilai transaksi sebesar 8,3% dari total nilai rata-rata transaksi harian (RNTH) yang sebesar Rp9,1 triliun di tahun lalu. Artinya, saham-saham gorengan memiliki nilai RNTH sebesar Rp755,3 miliar.

"Ada 41 saham yang kami identifikasi (gorengan). Volumenya memang besar karena recehan nilainya, tapi value kreditnya kecil," kata dia Gedung BEI, Jakarta, Jumat (10/1/2020).

Menurut Laksono, 41 saham tersebut tidak memiliki kesesuaian antara harga terhadap fundamental. Terlihat dari kewajaran kenaikan harga saham tersebut, biasanya terjadi peningkatan harga yang tidak wajar.

Hanya saja, dia enggan mengungkapkan emiten yang diindikasikan saham-saham gorengan tersebut. "Karena itu kan masih dugaan, jadi kami tidak bisa ungkapkan berdasarkan mengedepankan asas praduga tak bersalah", katanya.

Persoalan saham gorengan ini kembali mencuat karena adanya kasus gagal bayar yang terjadi di PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Perusahaan pelat merah itu melakukan investasi dana hasil penjualan produk JS Saving Plan pada saham gorengan dan pada reksa dana yang dikelola oleh manajer investasi dengan kinerja buruk.

Terkait hal tersebut, Laksono mengakui isu saham gorengan yang diinvestasikan Jiwasraya memang memberikan sentimen negatif pada pasar. Namun pengaruhnya tidak besar pada minta investor asing menanamkan dana di Tanah Air.

Menurutnya, saham gorengan tersebut sangat berbeda dari fokus investor asing yang lebih kepada saham-saham besar di IDX 80, LQ45, dam bahkan IDX30. Investor asing juga lebih mengkhawatirkan dengan kondisi ekonomi global dan domestik, ketimbang kasus satu korporasi.

"Mereka (investor asing) lebih terdampak terhadap kejadian global saat ini, dunia lagi risk off karena ada ketegangan di belahan semenanjung Arab antara Iran dan Amerika, juga sensitif pada berita ekonomi Indonesia dan kadang berita politik," jelasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: