Ingin harga gas industri murah, Kementerian ESDM tolak impor

Kamis, 9 Januari 2020 | 21:03 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) lebih memilih untuk mengkaji dua opsi penurunan gas bagi industri yakni pengurangan porsi pendapatan pemeritnah dan Domestic Market Obligation (DMO) gas ketimbang opsi impor gas.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)  Arifin Tasrif menilai opsi industri bebas melakuan impor gas akan menyebabkan persoalan lain.Arifin juga menjelaskan opsi impor dibebaskan untuk industri akan menjadi problem neraca perdagangan.

Dikatakan kalau impor dibebaskan maka akan meningkatakn defisit neraca. Lagipula, kata Arifin, stok gas dalam negeri juga masih surplus"Karena kalau impor kita akan menghadapi problem lain yaitu current account deficit (CAD), kalau CAD meningkat terus maka akan sebabkan tekanan ke nilai tukar rupiah," ujar Arifin di Jakarta, Kamis (9/1/2020).

Arifin menjelaskan opsi DMO atau alokasi khusus untuk gas industri menurutnya lebih baik. DMO juga bisa menjadi salah satu cara untuk bisa menolong CAD. "Di satu sisi penurunan ini ada yg harus disesuaikan dan di samping itu lokasi untuk mengamankan kebutuhan dlm negeri penting kita lakukan. Dmo penting untuk bisa menghambat impor," ujar Arifin.

rifin juga menjelaskan akan melakukan pemetaan terlebih dahulu terkait letak sumber gas, biaya, tata kelola dan tata niaga. Kementeterian ESDM menjamin kebijakan ini akan menguntungkan semua pihak."Apa yang akan kita lakukan, kita lakukan pemetaan dulu di mana sumber gas, cost-nya, tata kelola dan niaganya dan kemudian kita lihat unsur cost bisa disesuaikan," kata mantan Dubes RI untuk Jepang ini.

Ia berharap dengan adanya cara ini bisa mendorong untuk produksi industri nasional bisa lebih baik. Ia juga berharap ke depan industri lebih efisien. "Harapannya bisa mendorong produksi industri nasional, sehingga industri nasional ini bisa lebih efisien sehingga bisa bersaing," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: