Empat sektor industri ini disebut bikin neraca perdagangan defisit

Senin, 6 Januari 2020 | 21:13 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) komitmen untuk menekan defisit perdagangan yang hingga saat ini terus terjadi. Hingga Oktober 2019 lalu angka defisit perdagangan khusus dari sektor industri mencapai US$8,92 miliar.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan sejak Januari - Oktober 2019 angka impor pada sektor industri sebesar US$105,11 miliar. Sedangkan angka ekspornya sebesar US$105,11 miliar. Sementara itu kontribusi ekspor sektor industri sebesar 75,56 persen dari total ekspor nasional yang angkanya mencapai US$139,11 miliar pada periode tersebut.

"Ini yang kita sampaikan berkali-kali perlu dicari upaya - upaya atau policy untuk mengurangi impor dan mendorong agar subsitusi impor bisa berjalan agar defisit makin terkendali atau semakin baik," kata Agus Gumiwang di Jakarta, Senin (6/1/2020).

Agus menjelaskan, dalam kurun waktu 10 bulan di tahun 2019 kemarin, empat sektor industri yang berperan besar terhadap kinerja ekspor adalah sektor industri makanan dan minuman (mamin) dengan nilai US$21,73 miliar. Kemudian sektor logam dasar sebesar US$14,64 miliar, sektor industri tekstil dan pakaian jadi sebesar US$10,84 miliar.

Selanjutnya adalah dari sektor industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia senilai US$10,69 miliar.

Kemudian empat sektor industri yang memberikan andil paling besar terhadap nilai impor pada periode tersebut diantaranya adalah industri barang dari logam, komputer, barang elektronik, optik dan peralatan listrik sebesar US$24,91 miliar.

Lalu sektor mesin dan perlengkapannya US$18,46 miliar. Dilanjutkan sektor industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia dengan nilai US$18,16 miliar serta industri dasar logam dengan nilai impor US$14,57 miliar.

"Impor menurut penggunaan barang pada periode Januari - Oktober 2019 yaitu bahan penolong sebesar 74,06% (US$104,34 miliar), barang modal 16,64% (US$23,45 miliar) dan barang konsumsi sebesar 9,30% (US$13,10 miliar)," pungkas Agus.kbc11

Bagikan artikel ini: