Bidik inflasi 2020 di level 3,0 plus minus 1%, BI komitmen jaga stabilitas harga

Jum'at, 3 Januari 2020 | 14:56 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) 2019 tercatat sebesar 2,72 persen year on year (yoy). Dengan begitu kembali berada dalam sasarannya sebesar 3,5 plus minus satu persen.

Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Muhamad Nur mengatakan, pencapaian tersebut tidak terlepas dari konsistensi BI menjaga stabilitas harga. Ditopang pula dengan sinergi kebijakan yang kuat antara BI dan Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah.

"Ke depan, Bank Indonesia tetap berkomitmen menjaga stabilitas harga. Maka inflasi terjaga dalam kisaran sasaran 3,0 plus minus satu persen pada 2020," ujar Muhamad melalui keterangan resmi, Kamis (2/1/2020).

Pencapaian itu, lanjutnya, antara lain dipengaruhi inflasi IHK Desember 2019 yang sebesar 0,34 persen month to month (mtm). Meski angka tersebut meningkat sesuai pola musiman dibandingkan inflasi November 2019 yang sebesar 0,14 persen mtm.

Muhamad menyebutkan, inflasi IHK Desember 2019 tercatat lebih rendah dibandingkan rerata inflasi IHK akhir tahun pada empat tahun terakhir yakni sekitar 0,68 persen mtm. Perkembangan itu dinilai ditopang inflasi inti yang stabil pada level 0,11 persen mtm.

"Sementara, inflasi volatile food tetap terkendali. Meskipun sesuai pola musiman akhir tahun naik dari bulan lalu sebesar 0,42 persen mtm menjadi tercatat 0,86 persen mtm," tutur dia.

Muhamad melanjutkan, inflasi kelompok administered prices pun tetap rendah. Walau sesuai pola musiman akhir tahun juga meningkat dibandingkan inflasi bulan lalu, yaitu dari 0,03 persen mtm menjadi 0,63 persen mtm.

Dengan perkembangan tersebut, inflasi IHK 2019 tercatat menurun dibandingkan inflasi IHK 2018 sebesar 3,13 persen yoy.

"Kondisi ini dipengaruhi inflasi inti yang terjaga pada level rendah 3,02 persen yoy, dipengaruhi konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas harga sehingga ekspektasi inflasi terjangkar sasaran, permintaan agregat terkelola baik, nilai tukar bergerak sesuai fundamentalnya, serta pengaruh positif kenaikan harga global yang minimal," jelasnya.

Inflasi volatile food, kata BI, terkendali pula pada level 4,30 persen yoy. Sedangkan inflasi administered prices tercatat rendah sebesar 0,51 persen yoy. Ini sejalan minimalnya kebijakan terkait tarif dan harga barang dan jasa yang diatur Pemerintah.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan laju inflasi nasional sepanjang tahun 2019 mencapai 2,72 persen. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan angka inflasi tersebut terendah sejak tahun 2009. Saat itu angka inflasi nasional sebesar 2,78 persen.

Suhariyanto menyampaikan bahwa rendahnya inflasi sepanjang tahun 2019 karena harga-harga barang dan jasa yang menyumbang inflasi cenderung terkendali karena berbagai kebijakan. Realisasi inflasi itu juga jauh di bawah target sebesar 3,5 persen plus minus satu persen.

"Inflasi tahun 2019 ini terendah selama 10 tahun terakhir," kata Suhariyanto.

Dia menjelaskan, terkendalinya inflasi terutama disumbang oleh administered price atau harga-harga yang di atur pemerintah. Tahun 2019, inflasi administered price hanya 0,10 persen jauh di bawah posisi tahun 2018 yang mencapai 0,66 persen.

Suhariyanto menjelaskan, penurunan itu diakibatkan karena tahun 2018 lalu terdapat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) serta kenaikan harga tiket pesawat yang tidak terkendali. Berbeda dengan tahun 2019 dimana harga BBM tidak naik.

Di sisi lain, masyarakat yang mulai menyesuaikan diri dengan harga tiket pesawat dan beralih ke moda transportasi lain. Pemerintah juga telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk menekan harga tiket pesawat. kbc10

Bagikan artikel ini: