20 Ribu ton beras disposal, BULOG bakal lelang buat pakan ternak dan ethanol

Selasa, 3 Desember 2019 | 18:46 WIB ET
Dirut Perum BULOG Budi Waseso
Dirut Perum BULOG Budi Waseso

JAKARTA, kabarbisnis.com: Perum BULOG menyebutkan beras yang dikelola di gudang sebanyak 20.000 ton mengalami penurunan kualitas sehingga berpotensi tidak layak dikonsumsi manusia (disposal). Atas hal ini, manajemen melakukan pelelangan.

Dirut Perum BULOG Budi Waseso menuturkan beras disposal tersebut berasal dari cadangan beras pemerintah (CBP) di tahun 2017.Perubahan kebijakan penyaluran dari beras untuk rakyat sejahtera (rasta) menjadi Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang menyebabkan BULOG kesulitan mendisribusikan ke masyarakat

Menurut Buwas begitu biasa disapa ,pengalihan beras disposa itu sesuai amanat dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 38 Tahun 2018 tentang Pengelolaan CBP. Buwas mengatakan beras yang mengalami penurunan kualitas mutu itu masih dapat ditukar dengan beras yang berkualitas lebih baik dengan menjualnya di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET).

Opsi lain, bisa dijadikan tepung beras, pakan ternak, hingga sekurang-kurangnya menjadi ethanol. Mekanisme tersebut masih menjadi bagian dari mekanisme disposal atau pelepasan beras sehingga tidak lagi menjadi inventasi Bulog.

Adapun, volume beras disposal sebanyak 20.000 ton itu juga berdasarkan rekomendasi Badan POM dan laboratorium yang ditunjuk Kementerian Pertanian. Mengenai porsi peruntukan lelang beras dari total volume itu akan dirapatkan kembali dan diputuskan bersama pemerintah.

"Sesuai rekomendasi, beras ini paling rendahnya masih bisa dimanfaatkan untuk ethanol. Tentu mekanismenya nanti akan dilelang, terserah siapa yang mau dan berapa harganya nanti," kata Buwas di Jakarta, Selasa (3/12/2019).

Buwas mengilustrasikan dari hasil lelang tersebut, pemerintah akan mengganti biaya selisih atas harga jual di lelang dengan harga pembelian beras BULOG oleh pemerintah. Sebagai contoh, jika beras yang dilelang tersebut dibeli dengan harga Rp 5.000 per kg sementara harga awal pembelian beras yang dilelang itu sebesar Rp 8.000 per kg, maka pemerintah akan membayar Rp 3.000 per kg.

"Jadi selisihnya yang diganti negara. Ini bukan berarti saya mengemis-ngemis meminta anggaran pemerintah. Tapi hanya mengingatkan bahwa ada kewajiban negara," kata Buwas.

Titik akhir dari pelaksanaan lelang beras bergantung dari keputusan Kementerian Keuangan sebagai lembaga pemerintah yang memegang anggaran. "Nanti akan dihitung dan dirapatkan lagi," katanya menambahkan.

Direktur Operasional dan Pelayanan Publik BULOG Tri Wahyudi Saleh mengatakan beras yang akan dilepas itu akan diutamakan untuk kepentingan industri jika memang tidak lagi layak dikonsumsi masyarakat.Sebab, akan sangat disayangkan jika beras dimusnahkan begitu saja dan seolah membuang-buang anggaran. Pihaknya pun memastikan, 20.000 ton beras yang ada tidak akan ada yang dimusnahkan. Bulog akan mencari cara agar disposal stok beras tetap menghasilkan nilai uang meski telah terjadi penyusutan harga.

Sekertaris Perusahaan Perum BULOG Awaludin Iqbal menuturkan, lazimnya beras yang disimpan lebih dari lima bulan di gudang berpotensi mengalami penurunan kualitas. Secara kasat mata, beras tersebut akan nampak kusam, berdebu dan bau.Tidak selalu stok beras disposal harus dimusnahkan. Kalau laboratorium menyebutkan penurunan kualitas masih bisa dikonsumsi namun diproses terlebih dahulu.

Namun, sebagai beras yang disimpan dalam jangka waktu lama dipastikan akan memunculkan mikroorganisme.Sehingga harus diperiksa terlebih dahulu untuk dipastikan beras ini layak dikonsumsi.

"Misalnya apabila beras ini berdebu, maka harus diblower terlebih dahulu.Untuk beras yang sudah kusam dapat disosoh kembali," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: