Hilirisasi komoditas tanaman pangan incar investasi Rp8,95 triliun

Senin, 2 Desember 2019 | 21:36 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Pertanian (Kementan) mengincar kebutuhan investasi senilai Rp 8,95 triliun guna mendukung peningkatan ekspor berbagai komoditas sub sektor tanaman pangan pada 2020 mendatang. Sumber pendanaan berasal dari investasi swasta dan perbankan.

Dirjen Tanaman Pangan Suwandi menuturkan kebutuhan investasi dengan nominal tersebut diperlukan dalam mendongkrak industri pengolahan tujuh jenis tanaman pangan yang mencakup padi, jagung, kedelai, kacang tanah,porang, kacang hijau, ubi kayu, dan ubi jalar. Investasi bakal diarahkan pada klasterisasi penanaman dan penghiliran demi menambah nilai produk tanaman pangan.

“Supaya ekspor tinggi, kita harus hilirisasi produk-produk pangan. Dengan demikian, ada nilai tambah di kita. Kalau saya hitung-hitung, kebutuhan investasinya sekitar Rp 8 triliun untuk hilirisasi tujuh produk tanaman pangan. Seperti jagung saja potensi produk turunannya bisa mencapai 43 jenis,” ujar usai pertemuan tertutup dengan para eksportir tanaman pangan di Jakarta, Senin (2/12/2019).

Di sisi lain, Suwandi mencatat data produksi menjadi salah satu bahan evaluasi yang juga akan dijadikan acuan dalam mendongkrak rencana ini. Langkah peningkatan produktivitas disebutnya bakal didukung dengan benih unggul.

Dari segi ketersediaan lahan, Suwandi mengungkapkan sejumlah daerah menunjukkan potensi yang cukup menjanjikan. Untuk pengolahan jagung di Nusa Tenggara Timur misalnya, dia menyatakan telah ada investor asing asal Rusia yang menyatakan minat.

“Ada juga minat investasi di stevia dan gandum. Untuk tanaman sorgum, juga ada yang berminat masuk. Di kacang hijau juga pabrik pengolah siap menyerap produksi petani, 10% produksi kita sudah ekspor,” kata Suwandi.

Dalam rangka realisasi, luas tanam diharapkan dapat meningkat demi memenuhi kebutuhan industri pengolahan. Indeks pertanaman pun disebutnya akan digenjot dan diiringi dengan penyederhanaan regulasi.

“Kami sudah mempermudah regulasi. Sekarang lebih bagaimana mempertemukan produsen dengan pelaku usaha. Kalau ketemu modelnya, lalu dipasarkan,” ujar Suwandi.

Sementara dalam sambutan sebelumnya, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mencanangkan gerakan ekspor tiga kali lipat (Gratiks) untuk menggenjot ekspor pertanian . Mentan memerintahkan semua jajaran di Kementan guna membangun dan mengembangkan potensi pertanian di seluruh indonesia dengan sistem klaster.

Menurutnya sistem ini dinilai mampu menambah daya gedor ekspor yang jauh lebih besar."Hari ini saya perintahkan kepada Sekjen dan jajaran di Kementan untuk memperkuat sistem klaster di 34 propinsi. Kita punya potensi ubi kayu dan tanaman obat obatan, jadi harus didukung data yang lebih kuat. Untuk itu kita juga harus melakukan koneksi dan mixing aturan program," kata SYL.

Syahrul menambahkan eksportir sebagai pionir kegiatan ekspor sangat dibutuhkan dalam mewujudkan kebangkitan pertanian. Peran mereka juga diharapkan bisa membawa produk pertanian Indonesia mendunia dan diterima di pasar internasional.

SYL menambahkan Indonesia merupakan negara besar yang memiliki potensi sumber daya alam yang luar biasa, yang dapat dioptimalkan dengan baik melalui kemampuan bertani secara modern dan berbasis teknologi.

"Di luar negeri butuh jahe merah. Kita bisa mengekspor dengan koneksi. Atau saya memiliki koneksi tetapi saya tidak punya lahan. Jadi saya kira semua harus selaras dan mau bergerak bersama. Petani dan eksportir juga harus berjalan seimbang," ujarnya.

Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) Soetarto Alimoeso berpendapat pembangunan kluster pertanian sebaiknya berbasis korporasi tani. Menurutnya hal ini menjadi solusi bagi petani yang terkendala sempitnya pahan dan mahalnya biaya sewa lahan.

"Bagaimana? Melalui klasterisasi. Tiap kluster harus dibangun mixed farm. Disitulah pemerintah didorong masuk untuk KUR (Kredit Usaha Rakyat) tadi," jelasnya.

Ditjen Tanaman Pangan menargetkan produksi tanaman pangan bakal menembus angka 103,13 juta ton pada 2020. Hasil ini diperoleh dari perkiraan luas panen secara total seluas 17,75 juta hektare (ha)

Data Badan Pusat Statistik menyebutkan volume ekspor tanaman pangan sebesar 328.856 ton pada tahun 2018. Dari jumlah tersebut, jagung merupakan komoditas dengan volume terbesar yaitu 272.364 ton.kbc11

Bagikan artikel ini: