Begini kolaborasi segitiga menjadikan taruna pertanian mumpuni

Rabu, 27 November 2019 | 01:06 WIB ET

SUBANG, kabarbisnis.com: Krisis regenerasi sumber daya manusia (SDM) sektor pertanian menjadi tantangan bersama bagi semua pemangku kepentingan.Kolaborasi segitiga yakni antara pemerintah , dunia industri dan akademisi melalui penguatan kapasitas institusi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sektor pertanian menjadi salah satu kunci.

Mengutip Sensus Pertanian 2013 yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan usia pekerja pertanian diatas 45 -55 tahun mencapai 7.325.544 orang. Sementara, di usia di atas 55 tahun mencapai 5.229.903 orang dari total mereka berprofesi menjadi petani sebesar 26.135.469 petani

Tanpa dukungan ketersediaan SDM yang mumpuni maka hal ini akan menimbulkan dampak yang pelik terhadap ketahanan pangan nasional pada jangka panjang.

"Kita berkomitmen terus mendorong generasi muda untuk menggeluti sektor pertanian.Salah satu dukungan berupa penyiapan SDM unggul di sektor pertanian yang memiliki kompetensi khusus sesuai kebutuhan yang dipersyaratkan dunia industri," ujar Fransiska Fortuna, Deputi Direktur HRD PT East West Seed Indonesia (EWINDO) di sela Expo 'Good Agriculture Practises sebagai Upaya Penguatan Program Link and Match SMK Bidang Pertanian di Subang, Jawa Barat, Selasa (26/11/2019).

Berkaitan kegiatan Expo Hortikultura ini, sebut Fransiska diselenggarakan di SMKN 2 Subang, tidak lain sebagai pilot project yang ditunjuk Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan didukung  produsen benih sayuran tropis hibrida yang dipasarkan dengan merk Cap Panah Merah ini sudah lebih dari 15 tahun.Kepala Sekolah SMKN 2 Subang Iik Gunawan mengatakan Kemendikbud menjadikan sekolah ini sebagai pilot project revitalisasi SMK Pertanian kerjasama Indonesia-Belanda, vegIMPACT yang bermitra dengan Yayasan Bina Tani Sejahtera.

Fransiska menjelaskan SMKN 2 Subang dijadikan demplot budidaya komoditas hortikultura .Pihaknya menyediakan pelbagai benih tanaman sayuran dan buah.Jenis sayuran dan buah yang diantaranya bayam, bawang merah,cabai, jagung, kangkung,oyong,terong , melon dan semangka. "Ada 36 varietas tanaman," ujarnya.

Fransiska menambahkan para taruna mendapatkan  transfer teknologi tidak melulu bersifat langsung .Justru para  taruna SMK didorong melakukan inovasi. Dia mencontohkan ketika melakukan training teknik budidaya di Lampung , para siswa lebih memilih merekam dengan video. "Bukan lagi di catat.Ternyata kita punya pendekatan bagaimana pemuda tertarik dengan sektor pertanian," ujarnya.

Selain SMKN 2 Subang , sambung Fransiska EWINDO juga melakukan kerja sama serupa dengan SMKN di Jember." Kita punya fasilitas di Jember.Kita banyak menyediakan varietas benih.Tapi SMKN di Jember murni merupakan bagian revitalisasi SMK Kemendikbud dan Kebudayaan," terang Fransiska seraya menambahkan setidaknya EWINDO menerima SDM praktek industri dari 10-20 SMK.

Kasubdit Kerjasama Industri Kemendikbud dan Kebudayaan Sasriyadi mengatakan SMKN 2 Subang menjadi pilot project pertanian karena 70% merupakan praktik pertanian.Karena itu dukungan sarana dan prasarana, pelatihan guru serta pengembangan kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan industri.

Bahkan SMKN disini sudah mengadopsi teknologi revolusi industri 4.0. Sasriyadi mencontohkan penerapan The Internet of Things (IoT) sektor pertanian.Misalnya alat untuk mengukur kelembaban tanah.

"Penyiraman air pada tanaman menggunakan cukup dengan sensor.Ketika tingkat kelembaban sudah tinggi maka air itu otomatis mati. Tidak perlu lagi siswa menyiram tanaman secara otomatis," terangnya.

Ratna Komala,salah satu taruna  mengaku tidak sedikitpun menyesal mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri(SMKN) 2 Subang. Meski awalnya mendapat pertentangan dari  orang tuanya mengingat sejak sekolah dasar menjadi juara umum.

Cintanya semakin menggebu, mendalami teknik budidaya pertanian merupakan keasyikan yang tidak dapat disanding nominal materi. Awalnya, Ratna tergiur dengan keberhasilan alumni yang bekerja dan magang di Jepang.

"Sekarang saya ingin lebih mendalami ilmu pertanian , apalagi saat ini saya sudah dapat mengetahui pengembangan kultur jaringan , kita bisa memperbanyak kecil sehingga tidak terhingga . Sebelumnya, saya hanya mengenal stek dan cangkok," ujar Ratna seraya membeberkan pengalaman berkunjung ke sejumlah universitas di Belanda guna melihat kemajuan teknologi budidaya pertaniannya.

Wakil Bupati Subang Agus Masykur Rosadi memberikan apresiasi atas kolaborasi semua pemangku kepentingan.Diharapkan program ini menjadi daya tarik bagi generasi milenial menjadi petani. 

"Jangan malu , tidak usah gengsi menjadi petani.Kita tidak bisa makan kalau tidak ada petani. SMK ini harus menjadi contoh untuk sekolah lain," tutupnya.kbc11

Bagikan artikel ini: