Ewindo genjot penjualan benih bawang merah TSS dua kali lipat di 2020

Kamis, 21 November 2019 | 23:09 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Produsen benih sayuran hibrida tropis cap Panah Merah, PT East West Seed Indonesia (Ewindo) siap menggenjot penjualan dari benih bawang merah dengan biji botani /True Shallot Seed (TSS) di tahun 2020 sebesar 3 ton atau  bertumbuh 100%  dari penjualan tahun ini sebesar 1,5 ton.

Seles & Marketing Director Ewindo Afrizal Gindow mengatakan, perusahaan mematok target lebih tinggi ini didasari komitmen Kementerian Pertanian (Kementan) yang tetap ingin melanjutkan swasembada bawang merah yang telah direalisasikan sejak 2017. Namun disisi lain, masih banyak petani yang menggunakan umbi bawang merah yang diseleksi dari hasil panen.

Padahal dengan penanaman seperti ini, sebut Afrizal akan dihadapkan masalah terbatasnya penyediaan benih bawang merah yang bermutu. Sementara pasokan dan harga bawang merah rentan berfluktuasi yang rentan berpotensi meningkatkan angka inflasi.  

Ewindo, menurut Afrizal melihat fenomena ini sebagai peluang besar bagi perusahaan untuk mengisi kebutuhan benih di pasar. Menurutnya penjualan benih tahun 2019 diperkirakan sebesar 1,5 ton, turun 500 kilogram (kg) dibanding tahun 2018. Angka penjualan ini tidak memisahkan antara belanja bansos program Kementan dengan pasar komerasial mengingat petani diberikan kebebasan memilih merk benih bawang merah TSS.

“Kita tetap optimis dapat mengisi pasar karena ada keyakinan sebagian petani tidak menyukai benih bawang merah impor karena kurangharum,” ujar Afrizal kepada kabarbisnis.com di Jakarta, Kamis (21/9/2019).

Inisiasi Kementan yang menggencarkan penanaman bawang merah TSS sebagai solusi stabilitas pasokan benih ini pula  menjadi momentum Ewindo turut  mempromosikan outlook peningkatan kemitraan petani penangkar dari 500 hektare (ha)  menjadi  1.000 ha. Kendati diakuinya tantangan adalah memberikan edukasi petani melakukan persemaian terlebih dahulu, dari biji lalu persemaian dipindah ke tanah.

Karena itu Ewindo telah menyiapkan training center bagi petani penangkar benih sebagai pusat pembelajaran teknik budidaya bawang mewah TSS di enam provinsi diantaranya Nangroe Aceh Darrussalam, Sulawesi Selatan, Jawa Timur dan Jawa Tengah sejak dua tahun lalu. Keberhasilan menangkar teknik budidaya dan potensi margin yang diraih oleh satu kelompok tani diyakini menjadi promosi paling efektif bagi petani penangkar lainnya mengikutinya.

Afrizal menambahkan petani di kabupaten Grobogan dan Garut yang berhasil membudidayakan bawang merah TSS, kemudian  baru diikuti petani di Banyuwani dan Probolinggo. Kesempatan berbeda Managing Director PT Ewindo Glenn Pardede menyampaikan penggunaan TSS dalam menanam bawang merah itu akan menciptakan pertanian yang efektif. "Penggunaan inovasi ini bisa menghemat biaya produksi dan meningkatkan produksi," katanya.

Jika menggunakan bibit umbi bawang merah, yang dibutuhkan mencapai 1,5 ton bibit per ha dengan biaya sebesar Rp 45 juta.Sedangkan dengan menggunakan inovasi TSS, hanya memerlukan 5 kg benih dengan biaya sekitar Rp 10 juta per ha. Menurut dia ada tiga keuntungan yang bisa diperoleh petani jika menggunakan true shallot seed.

Di antaranya ialah biaya transportasi lebih murah karena berbentuk biji, benihnya bisa disimpan lebih lama maksimal dua tahun selama tidak terkena matahari.Keuntungan lainnya, lebih sedikit terserang penyakit karena benih itu tidak membawa virus dan jamur. Selain itu, pemakaian pupuk juga menjadi lebih efisien.

Ewindo telah mengenalkan benih bawang merah sejak 2007 dan telah memiliki varietas –varietas benih bawang merah seperti LOKANANTA dan SANREN F1. SANREN F1 merupakan vareitas bawang merah yang ditemukan peneliti Indonesia dengan sifat unggul antara lain mampu berproduksi maksimal di musim kering dan penghujan. Ini berbeda dengan bawang merah umumnya hanya dapat berproduksi maksimal pada musim penghujan.kbc11

Bagikan artikel ini: