Stok beras diklaim cukup hingga delapan bulan

Rabu, 20 November 2019 | 00:04 WIB ET
Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian Kuntoro Boga Andri
Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian Kuntoro Boga Andri

DEPOK, kabarbisnis.com: Meski tahun 2019 ini mengalami kemarau panjang, namun pemerintah berkeyakinan tidak berpengaruh negatif terhadap neraca beras nasional

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian Kuntoro Boga Andri mengatakan, stok beras tahun ini mencukupi kebutuhan hingga delapan bulan ke depan. Boga menguraikan stok beras ini terbagi di berbagai titik seperti gudang BULOG sebesar 2,2 juta ton. Sementara penggilingan 1,5 juta ton dan pedagang 1 juta.

Kemudian, merujuk analisa Badan Ketahanan Pangan alur beras setiap harinya di Pusat Induk Beras Cipinang (PIBC) sebesar 50.000. Jumlah ini melebihi batas normal penyaluran sebesar 30.000 ton per hari.

Untuk stok beras masyarakat seperti di horeka dan berada di lumbung-lumbung provinsi hingga kabupaten mencapai 849.000 ton. Untuk kebutuhan per kapita per bulan yang dilansir Badan Pusat Statistik sebesar 111,58 kilogram kapita per tahun.

“Kita optimis stok beras diperkirakan sudah mencukupi kebutuhan delapan-sembilan bulan kedepan,” ujar Kuntoro dalam Talkshow Peluang Generasi Milineal pada Sektor Agribnis di Depok, Jawa Barat,Selasa (19/11/2019).

Merujuk data Kerangka Sampel Area (KSA) dari BPS dalam kurun Januari-November 2019, produksi gabah kering giling (GKG) diprediksi mencapai 51,29 juta ton atau 29,41 juta ton. Dengan begitu akan terjadi surplus beras sebesar 2,15 juta ton.

Menjawab pertanyaan penurunan kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dalam 25 tahun terakhir menurun dari 22% menjadi 13%, menurut Kunto sebetulnya merupakan fenomena yang wajar karena Indonesia mengalami transformasi struktural dari agraris menuju negara industri. Hal sama juga dialami di negara negara maju manapun. Sebelumnya perekenomian ditopang sektor agraris bergerak semakin maju digantikan sektor industri dan jasa.

Begitupula dengan hitungan BPS terkait jumlah pekerja pertanian turun 30% dari 35,9 juta petani menjadi 35,7 juta atau 29% dari total pekerja di Indonesia.Menurut Kunto hal itu tidak terlepas dari acuan BPS sendiri yang membatasi tenaga kerja petani hanya berada di lingkup on farm pertanian. “Petani yang bekerja di penggilan beras saja sudah dicatat sebagai tenaga kerja sektor industri,” pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: