Olympic justru tuai cuan dari perang dagang AS -China

Kamis, 31 Oktober 2019 | 09:00 WIB ET
Direktur Operasi Olympic Group Asiang Muliamen (kiri) bersama Direktur Marketing Olympic Group Felix Jonathan.
Direktur Operasi Olympic Group Asiang Muliamen (kiri) bersama Direktur Marketing Olympic Group Felix Jonathan.

TANGERANG, kabarbisnis.com: Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China ternyata tidak selamanya berdampak negatif terhadap dunia usaha di Tanah Air. Diantaranya di sektor industri furnitur .

PT Graha Multi Bintang –produsen furnitur Olympic Group asal Surabaya ini justru memperoleh cuan dari perseteruan dagang dua negara adidaya ini.

Direktur Marketing Olmpic Group Felix Jonathan mengatakan, perusahaannya baru-baru ini memperoleh order dari buyer yang juga perusahaan ritel memiliki jejaring di dari Amerika Serikat (AS) .

Sebelumnya perusahaan ritel yang berdomisili  di New York ini memasok furniture asal China. Namun,perang dagang membuat furnitur asal China  harganya menjadi  lebih  mahal. “Selain terkena bea masuk tinggi  dan dumping hingga ratusan persen,” ujar Felix kepada kabarbisnis.com di sela acara Umrah bersama 120 mitra bisnis Olympic di Tangerang, Banten, Rabu (30/9/2019) malam.

Tanpa menyebutkan identitas perusahan yang dimaksud, menurut Felix pihaknya memperoleh kontrak penjualan untuk memasok produk furnitur ke AS dalam beberapa tahun ke depan. Tak ayal, produsen furnitur pabrikasi ini akan menggenjot volume ekspor 30-40 % dari total penjualan dalam dua tahun ke depan.Felix mengakui  pasar domestik menjadi tumpuan penjualan Olympic yakni mencapai 95%

Adapun produk furnitur yang diminta buyer diantaranya  lemari pakaian dan kitchen cabinet. Bahan baku furnitur ini adalah wodden furniture solid dengan sistem knock down (dirakit). Menurut Felix  sampai akhir tahun 2019, Olympic baru menyanggupi memasok lima kontainer (satu kontainer ditaksir US$ 42.000 yang berisi 150-200 unit) .

“Tahun depan, kita targetkan akan mengekspor ke AS sebanyak 30 kontainer. Di tahun 2022,  volume ekspor, kita targetkan akan meningkat dua kali lipatnya yakni 50-60 kontainer,” terang Felix.

Dia meyakini perusahaan dapat memenuhi kontrak  dengan volume yang meningkat signifikan .Pasalnya, Olympic memiliki  bahan baku dari sejumlah vendor yang memiliki sertifikasi SLVK sehingga diyakini legalitas produk asal hutan Indonesia .Selain itu proses perizinan birokrasi ekspor dirasakan semakin mudah.

Meski begitu Felix berharap Ditjen Pajak dapat memberikan insentif berupa kemudahan mengurus restitusi pajak ekspor.Menurutnya AS berkontribusi hampir 50 % dari pasar ekspor.Produk furnitur Olympic juga menyasar pasar Timur Tengah dan Uni Eropa dan Australia.

Direktur Operasi Olympic Group Asiang Muliamen mengatakan manajemen melakukan belanja modal sekitar Rp 50 miliar untuk restrukturisasi permesinan. Dengan  peremajaan permesinan ini, kualitas produk furnitur yang dihasilkan lebih bagus dan membuat model baru.”Tentunya kapasitas produksi juga meningkat ini seiring untuk mengantisipasi meningkatnya permintaan ekspor,” ujar Asiang.

Kendati demikian, Asiang menambahkan pasar domestik tetap merupakan prioritas perusahaan. Menurutnya faktor lesunya ekonomi global dan dinamika politik dalam negeri tidak berpengaruh terhadap animo masyarakat untuk memiliki produk baru furnitur.

Asiang optimis pertumbuhan sales Olyimpic tahun 2019 sebesar  15 % mampu tercapai. Dengan tumpuan pasar domestik  sebesar 95%, perusahaan diyakini dapat meraih omzet Rp 1,5 triliun.

Karena itu, program umrah ke tanah suci Makkah  sebanyak 120 orang dari mitra bisnis/distributor dan empat diantaranya empat orang karyawan merupakan apresiasi sekaligus insentif sehingga ke depannya diharapkan dapat meningkatkan sinergitas hubungan bisnis.

”Program ini sudah dua tahun berjalan. Program ini bukan semata mata membagikan keuntungan tapi juga memberi pengaruh baik bagi lingkungan kita dan masyarakat sekitar,” pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: