WR Soepratman dan kisah Bung Karno hormati lagu Indonesia Raya

Senin, 28 Oktober 2019 | 01:00 WIB ET

SURABAYA – PDI Perjuangan Kota Surabaya memperingati Hari Sumpah Pemuda melalui serangkaian agenda, mulai ziarah ke makam pahlawan nasional pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, WR Soepratman, hingga aksi donor darah.

Ketua DPC PDIP Surabaya Adi Sutarwijono mengatakan, rangkaian kegiatan itu digelar untuk memperkuat rasa kebangsaan sekaligus empati sosial. 

Para kader partai berlambang banteng itu berziarah di Taman Makam Pahlawan Khusus kawasan Tambaksari di mana jenazah WR Soepratman disemayamkan. WR Soepratman wafat di Surabaya, tepatnya di rumah Jalan Mangga, Tambaksari, pada 17 Agustus 1938. 

”WR Soepratman berperan penting dalam babakan sejarah perjalanan bangsa ini. Berkat karya seninya, national anthem yang pertama kali diperdengarkan pada Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928, semangat nasionalisme kaum muda republik semakin membara. Lagu Indonesia Raya turut membangkitkan narasi dan kesadaran tentang sebuah negeri yang merdeka, justru ketika penjajah sedang mencengkeram negeri ini,” ujarnya.

Adi memaparkan. lagu Indonesia Raya kemudian kembali dinyanyikan pada kongres Partai Nasional Indonesia (PNI) di Jakarta pada 1929. WR Soepratman memainkan gesekan biolanya untuk mengiringi lantunan Indonesia Raya. 

”Ketika itu, Bung Karno, bapak bangsa kita, sebagai pemimpin PNI menyerukan kepada hadirin untuk berdiri sebagai bentuk hormat saat Indonesia Raya dikumandangkan. Maka sejak itu, rakyat Indonesia selalu menghormati dan menyanyikan Indonesia Raya dalam posisi berdiri,” jelas Adi yang merupakan mantan jurnalis.

”Dalam momen itu jelas terlihat betapa Bung Karno memberi contoh nyata sebuah penghargaan bukan hanya kepada musik sebagai seni, tapi bagaimana seni yang mewujud dalam national anthem bisa menjadi bagian dari nation and character building,” imbuh.

Tak pelak, sambung Adi, usai Bung Karno mengenalkan Indonesia Raya dalam Kongres PNI, lagu tersebut semakin ramai dinyanyikan kaum bumiputera. ”Dalam sejumlah teks sejarah disebutkan, WR Soepratman sampai mencetaknya dalam bentuk stensilan agar lagu itu menyebar ke seluruh kalangan massa rakyat, selain sebelumnya syair Indonesia Raya tercatat pernah dimuat di media bernama Sin Po,” papar Adi.

Untuk lebih mengenalkan WR Soepratman kepada kaum muda, PDIP Surabaya bakal mendorong sekolah-sekolah untuk semakin aktif berziarah di makam sang pahlawan. ”Makam WR Soepratman hanya ramai ketika acara seremonial. Anak-anak muda Surabaya perlu mengenal beliau yang punya jasa besar pada perjalanan bangsa merebut kemerdekaan,” ujarnya.

Selain berziarah, peringatan Sumpah Pemuda oleh PDIP Surabaya juga diwarnai dengan kegiatan donor darah di kantor partai itu, Jalain Setail, Surabaya. Bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI), menghasilkan 100 kantong darah.

”Aksi ini akan menjadi agenda rutin PDIP Surabaya. Semoga ikhtiar kecil ini dapat menolong warga yang membutuhkan darah,” ujar Adi.

PDIP Surabaya juga mengapresiasi kepada seluruh penggerak PMI dan warga yang selama ini aktif mendonorkan darahnya. ”Bung Karno pernah menyebut aktivitas PMI ini sebagai inti kalbu Pancasila. Bung Karno juga pernah secara resmi mengajukan diri sebagai pendonor darah. Dalam tulisannya, Bung Karno mengatakan jika dia mendermakan darahnya, maka dia akan mengucap syukur kepada Tuhan karena diperkenankan menolong sesama manusia yang butuh darah,” pungkas Adi.

Bagikan artikel ini: