Terbuat dari bahan alam, Biofoam jadi solusi untuk produk kemasan

Jum'at, 25 Oktober 2019 | 05:41 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Saat ini Indonesia menempati peringkat kedua negara dengan sampah plastik terbesar di dunia setelah China. Karena itu, berbagai penelitian didorong untuk menciptakan alternatif kemasan yang dapat menggantikan dominasi plastik yang selama ini banyak digunakan masyarakat.

Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen) dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis ,(24/10/2019) dalam Konferensi Internasional Innovation in Polymer Science and Technology (IPST) baru baru ini di Bali mengenalkan Biofoam, bahan kemasan ramah lingkungan. Biofoam merupakan salah satu inovasi BB Pascapanen yang terbuat dari campuran adonan pati, serat sebagai penguat, dan bahan aditif lainnya, serta air yang dicetak dan dipress pada suhu dan tekanan tinggi.

Biofoam bisa menjadi salah satu solusi global terkait masalah kemasan karena terbuat dari bahan-bahan alam yang dapat terurai oleh lingkungan dan aman bagi kesehatan. Berbeda dengan Polystirena/ Styrofoam, Biofoam tidak mengandung Benzene, bahan karsinogenik lainnya yang berbahaya bagi kesehatan dan tidak dapat terurai oleh lingkungan.

Akibatnya sampah yang dihasilkan akibat pemakaian kemasan biofoam mudah terurai oleh alam. Hasil uji performance kemasan biofoam yang terbuat dari bahan utama pati ini di laboratorium pengujian menunjukkan bahwa kemasan biofoam terurai oleh mikroba setelah 2 minggu.

Hasil pengujian juga menunjukkan bahwa biofoam ini tidak mengandung logam berat yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Dengan demikian kemasan biofoam bisa menjadi solusi global kemasan yang tidak berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Dr. Agus Haryono yang hadir dalam acara tersebut menyatakan ketertarikannya dengan produk biofoam hasil riset BB Pascapanen ini. Agus menyampaikan niat untuk menjalin kerjasama dalam mengembangkan biofoam hidrofobik ini, yang nantinya akan disempurnakan dengan teknologi laminasi yang telah dimiliki LIPI.

Harapannya, sinergi penelitian tersebut akan menghasilkan produk berkualitas dan saling melengkapi sehingga menarik minat industri untuk melisensinya.kbc11

Bagikan artikel ini: