Pemerintah diminta tak remehkan defisit neraca perdagangan

Rabu, 16 Oktober 2019 | 05:32 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) meminta pemerintah tidak meremehkan defisit neraca perdagangan yang terjadi saat ini. 

Apindo beralasan defisit yang terjadi saat ini sudah di luar batas dan dapat membahayakan perekonomian Indonesia jika tidak segera dibenahi.

Hal ini dikatakan Ketua Umum Apindo, Hariyadi Sukamdani di Jakarta, Selasa (15/10/2019).

Haryadi mengatakan pemerintah harus segera mengeluarkan terobosan untuk meningkatkan ekspor dan membenahi impor untuk kepentingan nasional. Menurutnya defisit US$ 160 juta yang terjadi pada September 2019 ini sudah terlalu parah mengingat pada September tahun sebelumnya terjadi surplus perdagangan US$80 juta.

"Poinnya adalah penting, tetapi lebih penting dari bahan bakunya.Berarti memang ada perlambatan pertumbuhan ekonomi dan kami khawatirkan adalah turunan di beli daya," ujar Hariyadi.

Menurutnya masyarakat dapat menilai kualitas pertumbuhan ekonomi belum optimal atau bisa juga disebut manfaat pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati kelas menengah atas.Sedangkan menengah ke bawah justru mengalami tekanan. "Tertekan dalam arti kata kerja lapangan menyempit, lalu terkait dengan efisiensi perusahaan dan sebagainya," tuturnya.

Hariyadi menilai pemerintah perlu menggenjot lebih banyak lapangan kerja formal untuk meningkatkan kualitas pertumbuhan. Hal itu, kata dia, akan membuat produktivitas dan ekonomi masyarakat ikut terkerek.

"Peningkatan itu diperlukan untuk mengimbangi perlambatan global yang terjadi akibat perang dagang AS dan China," pungkasnya.

Wakil Ketua APINDO Shinta Widjaja Kamdani mengatakan defisit yang terjadi pada September ini dikarenakan impor bahan baku dan penolong masih berada terlalu tinggi yakni di kisaran 70,%.Sementara ekspor sendiri tidak terlalu menunjukkan kenaikan cukup sifnikan.

"Yang mana dengan keadaaan ekonomi global sekarang tidak mungkin juga jadi defisit itu pasti akan ada.Solusinya kita mesti industrialisasi, bagaimana kita kembangkan industri hulu supaya tidak terlalu tergantung kepada impor," terangnya.kbc11

Bagikan artikel ini: