Lama ditinggalkan, Bank Mandiri kini fokus KPR menengah bawah dan rumah seken

Selasa, 24 September 2019 | 06:24 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pasar properti dinilai mengalami perubahan cepat. Saat ini, segmen yang erbilang masih seksi adalan segmen menengah bawah, selain juga rumah seken.

Hal ini pula yang mendasari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. untuk melakukan rekalkulasi bisnis pada penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) dengan menyasar pada debitur kelas menengah bawah dan rumah seken.

Selama ini bank pelat merah itu lebih banyak mengucurkan kredit pada pada segmen menengah ke atas dan investasi.

Perseroan akan memacu KPR sejuta umat atau ticket size Rp500 juta ke bawah. Selain itu, segmen yang sudah lama ditinggalkan, dan akan dipacu penyaluran kredit, adalah properti seken atau tangan kedua yang masih layak ditempati.  

EVP Consumer Loan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Ignatius Susatyo Wijoyo mengatakan, dalam 5 tahun ini, harga properti seken cenderung tidak bergerak. Alhasil, ada peluang pertumbuhan penjualan properti seken jika digarap dengan baik.

"Ini segmen yang sudah lama kami tinggalkan, jadi kami akan fokus lagi ke sana. Sementara untuk segmen investasi yang sudah sulit diharapkan juga tidak akan kami fokuskan lagi, kami akan memilih pasar Rp500 juta ke bawah yang selama ini sudah banyak digarap bank lain," katanya, Senin (23/9/2019).

Adapun, bank dengan kode saham BMRI ini memang terus memacu pertumbuhan KPR. Pasalnya, per Agustus pertumbuhan segmen itu hanya 3,45% secara year-on-year (yoy) dengan outstanding Rp42,96 triliun.

Angka itu terpaut jauh dari kinerja industri yang dicatat Bank Indonesia, per Juli 2019 KPR tumbuh pada level 9,89% yoy.   

Ignatius mengakui bahwa tahun ini adalah periode yang sangat sulit untuk KPR. Sementara itu, permintaan tidak bergerak karena ada faktor yang sulit dihindari, yakni perang suku bunga. Alhasil, dari penyaluran KPR rata-rata Rp700 miliar per bulan, sekitar Rp200 miliar-Rp250 miliar adalah pelunasan di awal.

"Itu saya amati terus meningkat dari dahulu cuman keluar Rp100 miliar lalu sampai Rp250 miliar ternyata polanya sama yakni setelah bunga fix dan memasuki bunga floating, mereka pindah bank" ujarnya.

Dengan persoalan tersebut, sambungnya, saat ini perseroan tengah menggarap skema menarik untuk menahan para debitur tidak melakukan peluasan di awal, salah satunya dengan menawarkan bunga yang cukup menarik saat masa bunga tetap habis. kbc10

Bagikan artikel ini: