Surplus daging ayam ras nasional 2019 ditaksir capai 577.918 ton

Jum'at, 20 September 2019 | 19:51 WIB ET

SERPONG, kabarbisnis.com: Meski Indonesia telah membuka importasi produk ternak unggas dari negara lain, Kementerian Pertanian (Kementan) berkomitmen terus menjamin ketersediaan ayam ras dari lokal melalui penyusunan perencanaan produksi.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita menuturkan produksi DOC Final Stock (Day Old Chicken) tahun 2019 mencapai 3,48 miliar ekor atau setara daging ayam 3,83 juta ton. Menurutnya jumlah ini sangat memadai, mengingat kebutuhannya ditaksir hanya 3,25 juta ton.

"Artinya ada potensi surplus cadangan sebanyak 577.918 ton atau 17,77 persen dari kebutuhan tahun 2019," ujar I Ketut dalam sambutan dalam Seminar  Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) berkaitan Strategi Perunggasan Nasional Hadapi Impor Produk Brasil di Serpong, Jumat ( 20/9/2019).

Sementara realisasi produksi DOC FS Januari-Agustus 2019 ,sebesar 1,83 miliar ekor atau menghasilkan daging ayam broiler sebanyak 2,33 juta ton.Untuk kebutuhan daging selama Januari-Agustus 2019 ditaksir sebesar 2,17 juta ton.

"Surplus sebanyak 158.61 ribu ton atau setara 7,29 persen dari kebutuhan nasional," terang Ketut

Ketut mengakui industri ayam ras nasional masih menghadapi masalah harga livebird yang sangat fkuktuatif.Bahkan kerap kali berada di bawah harga pokok produksi .

Terkait hal ini, Ketut mengakui pihaknya mengambil keputusan melakukan culling /depopulisasi kepada integrator untuk mengurangi produksi DOC FS. Ini dilakukan untuk membuat peternak mandiri memperoleh harga jual yang stabil.

Seperti Surat Edaran Ditjen PKH merilis surat no 095009/SE/PK.010/F/09/2019 tanggal 2 September 2019. Kementan memerintahkan peternak untuk mengurangi produksi DOC Final Stock (FS) selama periode 2-20 September dan tunda setting pada 2-7 September. 

Kementan melihat terjadi anomali harga livebird di tingkat farm gate (peternak) dengan harga Rp. 11.000-17.000, dibandingkan dengan harga di pasar yang masih stabil tinggi sebesar Rp. 30.0000-35.000 sangat jelas menunjukan adanya disparitas harga yang sangat tinggi.

Sejalan hal ini, Kementan, sambung Ketut terus mendorong perbaikan di sektor hulu dan hilir industri perunggasan nasional .Untuk sektor hulu mencakup perbaikan mutu DOC Parent Stock dan Final Stock melalui penerapan Standar Nasional Indonesia.

Kementan juga meminta peternak melakukan revitalisasi kandang dari open house menjadi close house."Selain itu,perbaikan sektor hulu mencakup perbaikan manajemen budaya ,sertifikasi kompartemen bebas penyakit dan penyediaan modal usaha peternakan serta pelaporan produksi DOC PS dan FS secara benar dan tepat waktu," bebernya.

Adapun pembenahan di sisi hilir mencakup beberapa hal yakni peningkatan jumlah dan kapasitas pemotongan di Rumah Pemotongan Hewan Unggas dan coldstorage dan jumlah industri pengolahan hasil." Pola konsumsi masyarakat juga harus dirubah dari fresh meat ke Frozen meat," terangnya.

Meski begitu Ketut juga tidak menampik biaya pakan menjadi permasalahan laten yang terus dihadapi pemangku kepentingan. Data Statistik Perusahaan Peternakan Unggas tahun 2018, komponen pakan berkontribusi sekitar 57,8%.

Pasalnya sekitar 35%, kebutuhan pakan masih harus diimpor ,diantaranya bungkil kedelai, premiks, meat bone meal.Kenaikan harga pakan akan sulit terelakan apabila terjadi pelemahan nilai tukar rupiah. Atas hal ini, Kementan melakukan sejumlah langkah pembenahan berupa optimalisasi penggunaan bahan pakan lokal seperti bungkil sawit, penjaminan mutu dan kuantitas serta penguatan logistik bahan pakan.kbc11

Bagikan artikel ini: