Industri TPT cemburu, Kadin: Investor lebih suka suntik startup

Kamis, 12 September 2019 | 19:27 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kamar Dagang Indonesia (Kadin) mengatakan ada beberapa faktor yang menghambat akselerasi industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di Indonesia. Salah satunya, sulitnya mendapatkan suntikan dana dari investor.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perdagangan Benny Soetrisno mengatakan, pada saat ini startup lebih dipercaya para investor ketimbang perusahaan konvensional seperti pabrik tekstil. "Kok bisa ya Gojek segala macam itu (dapat suntikan investasi), padahal terus merugi. Sedangkan TPT kan ada pabrik, dan itu jalan terus," ujarnya di Jakarta, Kamis (12/9/2019).

Alhasil, ketika pabrik butuh untuk membeli mesin guna mendukung usahanya, tidak mampu membeli karena kurangnya dana.

Selain itu, masalah ketenagakerjaan masih membebani industri. Benny mengatakan setiap tahun pemerintah memberlakukan kenaikan upah yang disesuaikan dengan inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

"Seharusnya produktivitaslah yang menjadi indikator. Jadi kalau dihitung selama delapan tahun kenaikan upah itu dobel. Pertanyaannya, apakah produktivitasnya juga dobel. Paling hanya naik 30-40%," paparnya.

Kendati ada banyak tantangan, industri TPT menunjukkan kinerja yang positif. Kemenperin mencatat kinerja ekspor industri TPT nasional dalam kurun tiga tahun terakhir terus menanjak.

Pada 2016, berada di angka US$11,87 miliar. Kemudian pada 2017 menyentuh US$12,59 miliar dengan surplus US$5 miliar. Tren ini berlanjut sampai dengan 2018 dengan nilai ekspor US$13,27 miliar.

Sementara itu, pada periode Januari-Mei 2019, ekspor produk TPT nasional tercatat US$5,63 miliar atau naik dibandingkan capaian di periode yang sama tahun lalu di angka US$5,61 miliar. Komposisi produk yang diekspor tersebut mayoritasnya adalah pakaian jadi (63,1%), kemudian ada pula benang, serat, dan kain.kbc11

Bagikan artikel ini: