Ekspor nikel berkadar rendah berlaku hingga akhir tahun

Selasa, 3 September 2019 | 05:59 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ( ESDM ) akhirnya mengambil kebijakan baru untuk tidak lagi menerbitkan rekomendasi ekspor bijih nikel berkadar rendah atau 1,7%.Keputusan ini berlaku efektif mulai Januari 2020.

Menipisnya cadangan komoditas itu menjadi alasan pemberhentian izin ekspor tersebut. Tujuan lainnya adalah untuk meningkatkan nilai tambah dari ekspor nikel yang sudah diolah agar lebih mendatangkan devisa bagi negara.

Dirjen Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono mengungkapkan cadangan terbukti untuk komoditas nikel nasional saat ini 698 juta ton, dan hanya dapat menjamin pasokan bijih nikel bagi fasilitas pemurnian selama 7-8 tahun. Dengan umur cadangan tersebut, itu belum dapat memenuhi umur keekonomian fasilitas pemurnian atau smelter.

"Sehingga pemerintah perlu mengambil langkah berupa kebijakan baru, yakni penghentian rekomendasi ekspor bijih nikel kadar rendah, yang berlaku mulai awal tahun depan," ujar Bambang kepada wartawan di Jakarta, Senin (2/9/2019).

Bambang mengakui saat ini terdapat cadangan terkira komoditas nikel nasional sebesar 2,87 miliar ton. Meski demikian, hal itu masih memerlukan peningkatan faktor pengubah, seperti kemudahan akses perizinan, dan keekonomian (harga) untuk membuat cadangan terkira menjadi cadangan terbukti, sehingga nantinya dapat memenuhi kebutuhan smelter selama 42 tahun.

"Maka, atas dasar tersebut, segala sesuatu yang berhubungan dengan ekspor  raw material  nikel, akan berakhir pada 31 Desember 2019.Untuk yang sudah dapat izin bangun smelter, kalau tidak berhubungan dengan insentif  raw material , silahkan jalan saja.Kami beri kesempatan, untuk yang sudah mendapat izin, tetap berlakukan (izinnya) sampai 1 Januari 2020, itu batasnya." pungkasnya.

Dari data Kementerian ESDM , sejak 2017 hingga Juli 2019 sudah dikeluarkan rekomendasi ekspor bijih nikel sebesar 76,26 juta ton, namun hingga kini realisasinya baru mencapai 38,29 juta ton. kbc11

Bagikan artikel ini: