BI dorong pengembangan desa wisata di Jatim tiru Kampung Flory Sleman

Sabtu, 24 Agustus 2019 | 13:59 WIB ET

SLEMAN, kabarbisnis.com: Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Timur melakukan kunjungan ke desa wisata "Kampung Flory" di Sleman Yogyakarta bersama awak media se Jatim, Jumat (23/8/2019). Dalam kunjungannya, Kepala BI Kantor Perwakilan Jatim, Difi A. Johansyah berharap pengembangan desa wisata di wilayah Jatim meniru konsep kampung beromzet Rp 1 miliar per bulan ini.

"Kampung Flory ini melakukan sinergi dengan BI Yogyakarta dan berhasil. Ini bisa menjadi role model bagi kita untuk diterapkan di sejumlah desa di wilayah Jatim, bisa di Madiun, Blitar, Jember, Banyuwangi, Kediri dan lain sebagainya. Karena memiliki potensi yang sama untuk pemberdayaan ekonomi masyarakatnya," ujar Difi, Jumat (23/8/2019).

Pendiri Kampung Flory, Sudihartono mengatakan bahwa ada banyak tangan yang ikut berpartisipasi dalam keberhasilannya membentuk Kampung Flory, selain Bank Indonesia Yogyakarta, Pemda setempat hingga pemerintah pusat ikut membantu dalam keberhasilannya. 

"Awal kami merintis tahun 2015 itu yang sangat berat, anak muda desa yang membantu kami juga kadang lelah, sebulan kerja bakti, sebulan juga liburnya. Tetapi yang terpenting adalah pendanaan, makanya kami berusaha mencari bantuan dana. Kami buat proposal," kenang Sudihartono.

Tahap awal, uang investasi didapatkan dari "urunan" anggota yang berjumlah 20 orang. Dari uang tersebut, ia menyewa lahan pertanian warga desa setempat. Dengan berjalannya waktu dan dengan banyaknya pihak yang membantu, saat ini ini Kampung Flory telah berkembang pesat hingga terbagi menjadi empat zona di lahan seluas 6,5 hektar. 

Zona pertama adalah zona "Taruna Tani Flory" yang berkonsentrasi pada pembibitan tanam hias dan buah. Zona kedua "Dewi Flory" yang lebih menyasar pada aktivitas outbound, zona "Bali Ndeso Grup" yang bergerak di bidang kuliner dan wahana wisata dan terlahir zona "Puri Mataram" yang lebih dikhususkan untuk pengembangan agro buah. Dari keempat zona itu, kampung wisata tersebut mampu membukukan pendapatan sebesar Rp 1 miliar per bulan pada tahun 2018.

"Dulu, pendapatan kami tidak sampai Rp 30 juta per bulan. Tetapi tahun lalu dalam sebulan kami sudah bisa mendapatkan Rp 1 miliar per bulan

 Tahun ini, target kami sebulan mencapai Rp 1,2 miliar per bulan," terangnya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa konsep pembangunan Kampung Flory adalah dengan mensinergikan sektor pertanian, pariwisata, pendidikan, lingkungan dan budaya yang berbasis pemberdayaan masyarakat secara profesional. 

"Kalau pemuda diajak bertani banyak yang tidak mau karena kotor. Makanya saya mencoba dengan konsep ini. Hasilnya, banyak pemuda yang mau ikut dan gabung, masyarakat juga banyak yang terlibat. Hingga saat ini, ada 150 Kepala Keluarga yang ikut berpartisipasi," tambahnya.

Sudihartono berharap, Kampung Flory nantinya bisa terus berkembang menjadi wisata unggulan nasional sehingga mampu mendongkrak taraf hidup masyarakat Yogyakarta dan mampu mengurangi angka kemiskinan.kbc6

Bagikan artikel ini: