Musim hujan alami kemunduran hingga satu bulan

Jum'at, 23 Agustus 2019 | 06:29 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Fenomena El Nino tahun 2019 ini menyebabkan musim kemarau lebih panjang .Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan awal musim hujan dimulai pada Oktober.

Sementara puncak musim hujan diprakirakan pada Januari dan Februari 2020. Prakiraan tersebut terungkap pada Forum Diskusi Iklim (FDI) yang digelar Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi (Balitklimat),yang dibuka Kapuslitbang Tanaman Pangan Haris Syahbudin di Jakarta, Kamis (22/8/2019) guna membantu menyelamatkan pertanian dari bahaya banjir dan kekeringan.

Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dodo Gunawan menutirkan awal musim hujan 2019/2020 akan mengalami kemunduran satu sampai tiga dasarian dari normalnya di sebagian besar wilayah Indonesia. Sebagai informasi satu dasarian adalah sepuluh hari artinya musim hujan diperkirakan akan mengalami hingga satu bulan

Karenanya, musim kemarau tahun 2019 ini akan terasa lebih kering dibandingkan tahun 2018.Adapun untuk durasi kemarau tahun ini bervariasi.

Hampir semua daerah di bulan Agustus ini  sudah memasuki puncak kemarau."Namun sifat hujan tahun ini juga diprakirakan normal," ungkap Dodo.

Informasi itu menjadi dasar penyusunan rekomendasi teknis dan rekomendasi kebijakan. FDI itu digelar setelah pertemuan yang dilaksanakan BMKG yaitu National Climate Outlook Forum (NCOF) yang membahas perkembangan prediksi musim untuk MH 2019/2020.

Tim prediksi kerjasama Balitklimat, ITB, dan BMKG,  Elza Surmaini menyampaikan kejadian hari tanpa hujan lebih dari 10 hari masih berpeluang tinggi di wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi.Sementara , sebagian Maluku dan Papua pada bulan Agustus sampai Oktober.

Hasil pemantauan kekeringan padi Ditlin Tanaman Pangan juga menunjukkan luas terkena kekeringan pada 2019 lebih tinggi dibanding 2018 sehingga Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi menunjukkan risiko kekeringan agronomis masih tinggi pada Agustus  sampai Oktober 2019.

Menurut Elza penanaman dan penyelamatan tanaman eksisiting perlu dilakukan dengan irigasi suplementer.Memasuki awal Musim hujan pada November memiliki risiko kekeringan agronomis relatif lebih rendah. 

Peneliti dari Tim Analisis Kalender Tanam (KATAM) Terpadu Balitklimat, Yayan Apriyana merekomendasikan potensi luas tanam padi pada MH 2019/2020 seluas 11,4 juta hektar.  Awal tanam padi sawah direkomendasikan dominan pada Oktober di minggu ke-2 hingga ke-3 .

Menurutnya potensi luas tanam seluas 283.000 hektar dengan awal tanam dominan pada Desember minggu ke-2 hingga minggu ke-3. "Sedangkan potensi luas tanam dominan untuk kedelai di lahan sawah seluas 101.000 hektar dengan awal tanam dominan pada September minggu ke-3 hingga Oktober minggu ke-1," ujar Yayan.

Sementara data ramalan Organisme Penganggu Tanaman yang diperalkrakan serangan penggerek batang dan tikus (padi), penggerek batang, tikus dan ulat grayak (jagung) akan tinggi pada MH 2019/2020.Hasil FDI ini menjadi pertimbangan dalam penyusunan rekomendasi strategi adaptasi dan rekomendasi kebijakan menghadapi MH 2019/2020 untuk menekan kehilangan hasil produksi akibat bencana banjir, kekeringan, dan serangan OPT guna terwujudnya Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.kbc11

Bagikan artikel ini: