Kendaraan minum bahan bakar nabati bakal peroleh insentif pajak

Selasa, 20 Agustus 2019 | 22:18 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Peta jalan pengembangan industri yang terintegrasi dengan kebijakan biofuel nasional telah disusun. Implementasinya jadi panduan bagi para produsen dan konsumen untuk menyusun rencana bisnis ke depan, termasuk dalam penguatan dan penguasaan teknologi industri.

“Roadmap itu dimaksudkan untuk mewujudkan industri nasional yang rendah emisi karbon dan berwawasan lingkungan,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta, Selasa (20/8/2019).

Industri flexy fuel engine berbasis bahan bakar nabati misalnya, diyakini dapat tumbuh berdampingan dengan industri kendaraan listrik, hybrid serta teknologi rendah emisi lainnya. Airlangga memastikan pihaknya telah mengusulkan agar Pajak Pertambahan Nilai Barang Mewah (PPnBM) kendaraan ditentukan berdasarkan emisi karbon sebagai bentuk insentif bagi konsumen.

“Flexy engine termasuk jenis kendaraan yang bakal mendapatkan insentif dalam revisi Peraturan Pemerintah No.41/2013 tentang PPnBM,” paparnya.

Apabila kendaraan tersebut menggunakan B100, akan mendapatkan insentif maksimal 8 persen pada aturan baru nanti. Saat ini, pemerintah sedang mendorong penggunaan B100 yang setara dengan standar emisi Euro 4.

“Bisa dimanfaatkan untuk biodiesel, biogasoline, dan bioavtur. Kalau semua ini kita kembangkan, maka permintaan domestik cukup untuk menyerap industri CPO kita,” ujarnya.

Terobosan strategis mendongkrak harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar internasional juga terus diupayakan pemerintah maupun pelaku industri. Program hilirisasi industri kelapa sawit dan kebijakan mandatori biodiesel di dalam negeri saat ini jadi prioritas.

Kebijakan mandatori biodiesel 20 persen (B20) yang akan ditingkatkan menjadi B30 pada awal tahun 2020 juga bakal terus dikawal. Sehingga pada tahun 2021-2022 ditergetkan komposisi penggunaan bahan bakar nabati yang akan meningkat jadi B50-B100 tercapai.

“Kita perlu berbangga kebijakan mandatori biodiesel berkomposisi di atas 20 persen adalah yang pertama kali di dunia, dengan hasil implementasi di lapangan yang relatif baik dan lancar,” ujarnya.

Menperin mengapresiasi tim riset Institut Teknologi Bandung (ITB) terhadap upaya pengembangan teknologi katalis Merah Putih, yang mampu memproduksi bahan bakar hijau (green fuel) berupa bensin hijau, diesel hijau, dan avtur hijau langsung dari minyak sawit atau drop in biofuel.

“Kami sangat menaruh perhatian pada proses produksi green gasoline, tren konsumsi bahan bakar mesin bensin selalu meningkat. Selain itu juga menghasilkan produk samping ELPIJI hijau, yang akan mendukung rancangan Bauran Energi Nasional yang berbasis energi baru terbarukan,” kata Airlangga.

Namun demikian, diperlukan langkah nyata untuk mewujudkan masuknya investasi di bidang industri green fuel tersebut. Para investor saat ini terus didorong untuk melalukan ekspansi mengambil potensi ketersediaan kelapa sawit yang melimpah.

“Seperangkat fasilitas perpajakan telah kami siapkan, dan kami aktif mengundang kepada seluruh pihak, khususnya calon investor dalam negeri, agar mereka dapat berpartisipasi membangun kedaulatan energi nasional melalui industri bahan bakar hijau berbahan baku minyak sawit langsung,” pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: