Tinggi, ketergantungan bisnis coffee shop terhadap pasokan listrik

Minggu, 18 Agustus 2019 | 20:27 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Keberadaan energi listrik sangat vital bagi masyarakat. Bukan saja untuk mendukung aktivitas sehari-hari, namun seiring dengan perkembangan zaman, energi listrik juga erat kaitannya dengan gaya hidup.

Menjamurnya bisnis coffee shop belakangan ini juga tak lepas dari pemenuhan akan gaya hidup khususnya kaum milenial dan profesional muda. Coffee shop bukan saja sebagai ttempat nongkrong namun juga sebagai pilihan bersosialisasi hingga pertemuan bisnis.

Tak ayal, pebisnis coffee shop juga berlomba-lomba dalam menggaet konsumen, baik melalui desain interior, layanan, menu, dan fasilitas penunjang lainnya.

Data dari Ditjen Industri Agro Kemenperin menyatakan, pertumbuhan konsumsi produk kopi olahan dalam negeri meningkat rata-rata 7 persen per tahun. Pertumbuhan ini didorong oleh bertumbuhnya masyarakat kelas menengah dan perubahan gaya hidup masyarakat.      

Indonesia adalah negara penghasil biji kopi terbesar keempat di dunia setelah Brasil, Vietnam dan Kolombia. Ini menjadi potensi pengembangan industri pengolahan kopi di dalam negeri. Produksi kopi RI adalah 639.000 ton tahun 2017 atau 8 persen dari produksi kopi dunia dengan komposisi 72,84 persen merupakan kopi jenis robusta dan 27,16 persen kopi jenis arabika. 

Seperti dikemukakan Pambudi Prasetyo selaku Ketua Penyelenggara Festival Kopi, sejalan dengan tema Electricity Lifestyle yang mengemuka dalam penyelenggaraan Bali Collection Festival 2019 (BCF 2019), kegiatan ini bertujuan memperkenalkan dan menggabungkan antara kemampuan seniman lokal dengan keindahan Bali beserta kuliner, dan tampilan produk kerajinan lokal kepada para wisatawan yang berkunjung ke Bali.

“Agustus adalah musim puncak kunjungan wisatawan kedua di Bali setelah Idul Fitri, sehingga kami menyelenggarakan even yang sudah berlangsung selama 5 tahun ini, di mana di dalamnya kami masukkan even Festival Kopi, yang baru diselenggarakan pertama kalinya tahun ini. Kami berharap dapat berlangsung juga sebagai event tetap setiap tahun,” jelas Pambudi melalui keterangan tertulis, Minggu (18/8/2019).

Menurutnya, Industri kopi saat ini termasuk salah satu industri yang sedang 'seksi' dan luas sekali penggunaannya, sehingga orang dapat memanfaatkan ruangan tersisa di halaman rumahnya saja, yang berukuran 3x3 meter persegi. Mengingat semua mesin yang dipergunakan di warung kopi modern, lebih luas kafe, saat ini menggunakan listrik, sehingga pasokan listrik sepenuhnya mendukung perkembangan ekonomi kreatif.  

Pada Festival Kopi yang berlangsung 16 – 18 Agustus 2019 di Nusa Dua, Bali, ditampilkan sejumlah acara, seperti perbincangan dan pengetahuan tentang kopi, serta pameran kopi yang menampilkan potensi kopi dari seluruh Indonesia. Di sini para pengunjung dan investor dapat saling mingle, ataupun juga berkomunikasi langsung dengan para petani atau pemilik kebun kopi, demo sangrai (roasting) kopi, dan menyaksikan langsung buyer’s cupping.    

Acara yang diikuti 48 booth ini, menampilkan wakil dari pemerintahan, market place, lembaga pembiayaan dan perbankan, serta para pemain di bidang industri perkopian. Partisipan dalam pameran antara lain Kementerian Perindustrian, Kabupaten Bone Bolango, Kabupaten Bandung,Terminal Coffee (binaan Pemda setempat), Kopi Nusantara, Coco Group, Tropical Group, Prada Group, The Paon Group, serta sejumlah pemilik brand kopi kekinian.

PT PLN (Persero) sebagai salah satu peserta, juga mendukung bertumbuhnya industri kopi di Indonesia, melalui pemberian pelatihan dan penanaman kopi lewat anak perusahaannya Unit Pembangkit Mrica PT Indonesia Power di Desa Pengundungan dan Desa Krinjing, Jawa Tengah.

Melalui program CSR-nya dapat membawa dua kelompok petani Kopi Senggani dari Kelompok Tani (Poktan) Rising - Desa Pengundungan dan Kopi Krinjing dari Poktan Bumi Asih memberi nilai tambah bagi para anggota Poktan dan juga industri terkaitnya.                 

Menurut Pambudi, luasnya penggunaan listrik dimulai sejak dari kopi tersebut ditanam sampai siap diminum. Proses penanaman kopi tidak hanya membutuhkan energi secara intensif, baik digarap dengan sistem tanam sederhana ataupun yang menggunakan mesin (mekanisasi pertanian). Faktanya, hampir 60% energi yang dipergunakan untuk menghasilkan secangkir kopi, terutama terletak pada sisi distribusi (pengangkutan), roasting (proses sangrai), dan penyeduhan (brewing) kopi. 

Mesin roasting beroperasi pada suhu temperatur 550 derajat Fahrenheit, dan setiap satu jam menghabiskan sekitar 1 juta BTU (British Thermal Unit). Dari semua proses, penyeduhan kopi yang  membutuhkan energi paling besar. Menggabungkan antara panas dari energi listrik itulah yang masuk  dalam seni dan energi penyediaan kopi, termasuk berbagai mesin penyeduhnya. Secara total energi yang dipergunakan untuk menghasilkan 100 mililiter kopi setara dengan 1,94 megajoules, atau setengah KwH.  

Hal senada dikemukakan Nyoman Suweca selaku Ketua Indonesian Barista Association (IBA) Bali, yang secara organisasi berada di bawah Indonesian Food and Beverage Association Commitee (IFBAC) Bali.  

Menurut dia, untuk mendirikan coffee shop kekinian yang menampilkan frame mural yang menarik, dengan  investasi lampu, meja dan kursinya, serta sekitar 4 jenis mesin untuk membuat kopi diperlukan investasi awal berkisar antara Rp100 juta hingga Rp 150 juta. Biasanya satu coffee shop juga minimal mempekerjakan antara 4 -5 orang, termasuk barista dan waiter (pramusaji). 

“Investasi terbesar adalah pada harga mesin-mesin seperti coffee grinder (mesin giling kopi), mesin espresso, french press (alat penghilang ampas kopi), milk steamer, dan kulkas untuk menyimpan susu dan campuran bahan kopi lainnya (chest freezer). Sebab harga satu jenis mesin saja berada sekitar Rp35 - 50 juta; kemudian juga jenis kopi yang banyak disukai saat ini adalah jenis kopi premium, yakni specialty coffee (jenis kopi khusus yang tumbuh di daerah tertentu),” paparnya. 

Istilah specialty coffee merujuk pada kopi yang memiliki cupping test score di atas 80 poin. Penilaian ini berdasarkan aroma dan rasa yang khas dan istimewa di atas kopi rata-rata pada umumnya. Berdasarkan data Kemenperin, Indonesia juga memiliki berbagai jenis kopi specialty yang dikenal di dunia, termasuk kopi luwak  dengan rasa dan aroma khas sesuai indikasi geografis yang menjadi keunggulan Indonesia.

Di bidang usaha coffee shop, daya listrik setiap jenis mesin berbeda-beda, bervariasi antara 1.200 watt sampai 1.300 watt, di luar daya boiler. Biasanya setiap venue memiliki minimal 4 jenis mesin, serta pendingin ruangan (AC) sehingga untuk menyediakan daya listrik beserta spare daya tersedia, mereka perlu menyediakan sekitar 10.000 watt. kbc7

Bagikan artikel ini: