Teknologi pertanian Balitbangtan pulihkan lahan eks bencana likuifaksi di Sigi

Minggu, 18 Agustus 2019 | 18:06 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Bencana gempa bumi dan likuifaksi pada 28 September 2018 di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng) memang memilukan. Terlebih lagi, Kabupaten Sigi merupakan salah satu kabupaten sentra padi Provinsi Sulteng, sehingga menurunkan luas areal tanam dan produksi beras.

Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Balitbangtan Sulteng Andi Baso Lompengen mengatakan, bencana ini menyisakan lahan sawah yang rusak dan tidak produktif. Lahan sawah yang tadinya datar menjadi tidak rata bahkan bergelombang sehingga menyulitkan pengolahan. Lahan sawah terdampak gempa dan likuifaksi di Kabupaten Sigi seluas 6.611.2 hektare (ha) terdiri dari 5.334,9 ha rusak ringan, 895,14 ha rusak sedang, dan 380,14 rusak berat.

Bendungan Gumbasa dengan jaringan irigasi yang rusak mengakibatkan lahan yang tadinya banyak air menjadi kering kerontang. Di musim kemarau dengan matahari yang sangat terik, lahan sawah ini ditinggalkan dan menganggur. Ketersediaan air menjadi masalah utama.

"Mengembalikan semangat para petani yang terdampak gempa ini untuk kembali ke lahan mereka menjadi tantangan tersendiri di tengah kepiluan dan rusaknya lahan pertanian. Dalam kondisi yang serba terbatas, BPTP Balitbangtan berhasil menunjukan lahan pertanian yang rusak terkena bencana dapat kembali produktif dan menjadi sumber pendapatan," ujar Andi Baso dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (18/8/2019).

BPTP Balitbangtan Sulteng,kata Andi Baso mengambil peran koordinasi dan pendampingan untuk membuat demplot sistem pertanian di Desa Karawana, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi seluas 13 hektare (ha). Lahan ini, sebelum gempa terjadi merupakan lahan sawah irigasi produktif ditanami dua kali setahun atau IP 200, dan merupakan sumber pendapatan utama para petani setempat.

Andi Baso mengatakan, saat meninjau kerusakan bencana ke Sigi, Menteri Pertanian menugaskan Balitbangtan melalui BPTP Balitbangtan Sulteng untuk memberikan percontohan bagaimana lahan rusak ini bisa menjadi produktif dan menghasilkan."Kembalikan petani kepada lahannya. Tunjukan bahwa lahan ini bisa diolah,” kata Andi Baso saat Panen Tumpang Sari Tanaman (Turiman) dalam kegiatan Optimalisasi Lahan Terdampak Gempa Pasigala Melalui Dukungan Inovasi Pertanian IP 200 Turiman Padi Gogo – Jagung di Kabupaten Sigi, baru-baru ini.

Dengan teknologi pengelolaan lahan, pemilihan varietas, dan teknologi budidaya, lahan tersebut dapat disulap menjadi lahan produktif. Namun, kebersamaan dan kesadaran adalah kunci keberhasilan upaya tersebut.

"Kita harus move on. Kita terus kembangkan teknologi mulai teknologi pengelolaan air seperti tadi kita lihat, teknologi varietas tahan kering, teknologi budidaya. Kita telah tunjukan dan menghasilkan. Badan Litbang Pertanian siap membantu para petani dengan teknologi dan pendampingan. Tadi kita panen dan tongkol jagungnya besar-besar. Kita tunjukan dan kita terus kembangkan," ujar Kepala Puslitbang Tanaman Pangan  Haris Syahbuddin mewakili Kepala Badan Litbang Pertanian dalam sambutannya.

Menurut Haris kunci mengolah lahan gersang dan tandus menjadi lahan produktif dan menghasilkan sangat ditentukan kejelian permasalahan dan potensi lahan. Ketersediaan air adalah masalah utama di lahan ini.

Pemanfaatan teknologi sumur dangkal dikombinasikan dengan sistem irigasi watergun sprinkler menyebabkan pengairan lebih efisien. Sistem ini dapat menghemat penggunaan air karena air akan merata dan tepat jatuh di titik tumbuh tanaman dengan jangkauan 14 meter.

“Lembah Palu termasuk kategori wilayah lahan kering iklim kering. Tekstur tanahnya sedang dan saat kemarau tanah nampak berdebu tetapi jika diolah bagus untuk pertanian. Air adalah masalah utama. Penggunaan sumur dangkal dan watergun ini memang kami rekomendasikan untuk diterapkan,” kata Dr. Yiyi Sulaeman, Kepala Bidang Kerjasama dan Pendayagunaan Hasil Penelitian mewakili Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Bogor.

Yiyi menambahkan, di lahan seperti ini teknologi eksplorasi potensi sumur air dangkal perlu diterapkan. Jika sudah ketemu dibuat sumur kemudian air ditarik ke atas dan ditampung di bak penampungan. Selanjutnya watergun mengambil air dari bak penampungan yang didorong oleh mesin pompa.

“Ini tidak sembarangan karena perlu perhitungan cermat tentang debit air, kedalaman sumur, panjang dan dimensi paralon, dimensi bak tampung, spesifikasi mesin pompa dan luas areal yang diairi. Saya meyakini jika sumur dangkal dan watergun diterapkan di daerah yang terdampak, lahan-lahan ini akan menjadi produktif lagi,” tuturnya.

Pembuatan sumur ini menghabiskan biaya investasi sekitar Rp 25 juta. Sementara, pembelian mesin pompa penarik air sekitar Rp 10 juta. Jadi untuk satu sumur dangkal dengan kedalaman sekitar 10 sampai 15 meter memerlukan investasi sekitar Rp 35 jutaan.

Biaya investasi untuk irigasinya sekitar Rp 20 juta. Biaya itu sudah termasuk 1 mesin pompa, selang, dan 3 alat watergun. Untuk penyiraman diperlukam biaya Rp 100 ribu per hari untuk membeli bahan bakar minyak (BBM). Petani sendiri yang melakukan penyiraman. Namun untuk sumur bisa mengunakan panel surya untuk depannya

"Turiman atau tumpang sari tanaman merupakan salah satu teknik budidaya yang dapat mengefisiensikan sistem produksi. Penggunaan varietas toleran kekeringan juga lebih menghemat air," kata dia

Demfarm ini menanam jagung yang toleran yaitu varietas Sukmaraga dan Varietas Lamuru. Hasil ubinan jagung varietas lamuru pada pola turiman adalah 9.4 ton/ha dan hasil ubinan varietas sukmaraga pada pola monokultur 6.2 ton/ha. Kelebihan Turiman, petani masih bisa memanen padi gogo yang juga menjadi tambahan pemasukan.

Selain implementasi teknologi budidaya, rekayasa kelembagaan pun dilakukan. Inovasi kelembagaan meliputi peningkatan kapasitas petani dan penyuluh, inisiasi kelembagaan ekonomi berupa Unit Usaha Agribisnis “Semangat Bersama” yang bergerak di bidang perbenihan dan pemasaran jagung, kelompok Unit Pengelola Jasa Alsintan “Karya Bersama” dan Usaha Penyediaan Saprodi “Maju Bersama” di Kelompok Tani Padaelo II Desa Karawana.

Peningkatan produksi dan optimalisasi lahan merupakan hal penting penting untuk peningkatan pendapatan, mengembalikan semangat petani untuk kembali ke lahan dan bertami itu juga teramat penting. Di lahan lah para petani mendapat pendapatan dan dari lahannyalah petani dapat memenuhi keperluan hariannya. "Ganti paradigma menanam jagung berbuah jagung menjadi menanam jagung berbuah uang, ekonomi kerakyatan di Sigi dapat dibangkitkan," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: