Jamhadi: 'Neraca Tenaga Kerja' penting untuk atasi pengangguran di Surabaya

Rabu, 14 Agustus 2019 | 16:06 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Surabaya Jamhadi menegaskan bahwa pembuatan Neraca Tenaga Kerja sangat penting  dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya. Neraca Tenaga kerja ini nantinya akan digunakan sebagai acuan dalam mengatasi tingginya angka pengangguran di Surabaya.

“Secara umum, angkatan kerja kita mencapai 1,647 juta jiwa, sedangkan yang bekerja di Surabaya mencapai 2,7 juta. Tetapi kenapa kemudian masih ada angkatan kerja Surabaya yang menganggur. Ini berarti tata kelolah yang tidak ada. Untuk itu Surabaya harus memilik Neraca Tenaga Kerja,” tegas Jamhadi di sela Musyawarah Kota (Muskota) VI Kadin Surabaya di Shangri-La Surabaya, Rabu (14/8/2019).

Dengan adanya Neraca Tenaga Kerja tersebut, maka akan terlihat dengan detil profil tenaga kerja dan angkatan kerja di seluruh wilayah Surabaya.   Karena dengan melihat data sekials tentang juah tenaga kerja yang berada di Surabaya, arusnya seluruh angkatan kerja di Surabaya terserap dan tidak ada yang menganggur.

“Ini artinya, ada hak tenaga kerja Surabaya yang diamnil oleh tenaga kerja dari luar Surabaya. Dalam hal ini, Kadin telah mengajukan  Surabaya harus memiliki neraca ketenagakerjaan. Melalui neraca tenaga kerja ini maka  akan tercipta Surabaya minim pengangguran,” tambahnya.

Selain itu, pengurangan tenaga kerja juga bisa dilakukan dengan lebih berkonsentrasi mengembangkan industri pariwisata Surabaya. Karena sebenarnya Surabaya memiliki potensi wisata yang cukup beragam dan menarik, mulai dari wisata alam seperti wisata mangrove dengan daya tarik banyaknya burung migrasi hingga wisata belanja.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa pada tahun 2018, investasi Surabaya mencapai Rp 51 triliun, di tahun 2018, PDRB Surabaya capai Rp 524 t, 547 triliun. Dari pendapatan tersebut, 52 persen adalah dari sektor jasa dan perdagangan.

“Walaupun demikian, kita masih mendapatkan keluhan dari jasa dan perdagangan, utamanya perhotelan. Kita memiliki  152 hotel dengan  kamar 43 ribu  kamar. Tetapi tingkat hunian masih sekitar 63 persen. Bahkan menurut pelaku, ada yang dibawah 60 persen.” terangnya.

Dan hal ini menjadi tanggung jawab masyarakat Surabaya untuk mendatangkan turis berlibur dan berbelanja di Surabaya. Jika pariwisata bisa tumbuh dan berkembang, maka berbagai sektor ikutan juga akan mengalami pertumbuhan, diantaranya sektor perdagangan, kuliner dan perhotelan. 

"Dengan demikian, pariwisata ini akan menjadi mesin pertumbuhan baru. Pada tahun lalu, ada sekitar 4,86 juta turis datang ke bali. Tetapi turis yang datang ke Juanda hanya mencapai 248.000 orang. Sangatlah sayang, Surabaya hanya didatangi 5 persen dari turis yang datang ke Bali. Solusinya, bekerjasama membuat program paket wisata,  misalnya dari Istanbul ke Bali lanjut ke Jatim. Ini bisa dilakukan oleh Asita dan PHRI," pungkasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: