Impor daging ayam Brasil dibuka, ketahanan pangan nasional terancam

Kamis, 8 Agustus 2019 | 19:12 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemangku kepentingan industri perunggasan nasional menyesalkan keputusan Kementerian Perdagangan (Kemendag) yang tidak melakukan banding menyusul kalahnya gugatan Indonesia atas Brasil di forum World Trade Organization terkait impor daging ayam.

“Padahal terakhir kami bertemu yakni tanggal 25 Juli 2019 lalu,mereka (Kemendag) menyatakan ingin banding atas keputusan sidang WTO,” ujar Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) Achmad Dawami kepada kabarbisnis.com di Jakarta, Kamis (9/8/2019).

Dawami melihat kegigihan Brasil yang mempermasalahkan kebijakan Indonesia yang menutup impor daging tidak lain karena besarnya nilai kapitalisasi industri perunggasan nasional yang mencapai Rp 400 triliun. Dia mengkhawatirkan apabila impor daging ayam asal Brasil tersebut benar-benar direalisasikan maka hal itu akan mengancam ketahanan pangan nasional .

Pasalnya, daging unggas berkontribusi lebih dari 65% kebutuhan protein hewani  masyarakat dengan harga relatif memadai sehingga akses pemenuhan gizi masyarakat lebih terbuka. Catatan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan menyebutkan sampai bulan Jul Indonesia mengalami surplus daging ayam sebesar 517.800 ton dan telur surplus 26.100 ton. Keadaan ini menyebabkan di bebeberapa bulan tertentu menyebabkan harga daging ayam cenderung anjlok sehingga merugikan disisi peternak .

”Dari sisi stok, tidak ada masalah. Sikap pemerintah ini mengancam nasib jutaan peternak di pedesaan akan terancam.  Saat ini, peternak dengan membudidayakan ayam broiler 5.000 ekor saja bisa memperoleh pendapatan Rp 4 juta –Rp 5 juta per bulan.

Sebanyak 5 juta peternak turut menopang ekonomi di pedesaan dan menurunkan kemiskinan yang massif. Kalau impor daging ayam benar-benar direalisasikan maka usaha mereka pertama tama yang akan tergusur,” kata Dawami.

Pemerintah Indonesia , sambung Dawami mestinya memahami Brasil menjadi produsen daging terbesar di dunia karena industri peternakan karena Negara Samba tersebut didukung penuh pemerintahnya. ”Peternak memperoleh bahan baku paku sangat murah, jagung hanya Rp 2.500 per kilogram dan bungkil kedelai Rp 4.480 an,” terangnya

Pemerintah Brasil membuka akses bagi dunia usaha yang ingin membangun kandang ternak yang modern akan memperoleh bunga kredit murah yakni hanya dua persen. Gilirannya biaya ongkos produksinya ayam broiler jauh lebih murah dengan ongkos produksi ayam peternak lokal.

Jauh berbanding terbalik dengan industri peternakan di Tanah Air. Untuk jagung yang berkontribusi 55% biaya pakan , peternak harus menembus diatas harga Rp 4.000 per kg.”Harga pokok produksi, ayam broiler hidup Brasil hanya Rp 9.000 per kilogram. Tapi di Indonesia mencapai Rp 17.500 per kilogram. Tentunya, peternak kita harus menjual di atas harga tersebut,” tegasnya

Dawami berharap pemerintah terus melakukan diplomasi bilateral perdagangan dengan Brasil, yang prinsipnya melindungi eksistensi industri perunggasan nasional. Jika hal ini tidak dilakukan, maka hal ini akan berdampak bukan hanya dari sisi ekonomi namun sosial .

“Bisa saja masyarakat memperoleh harga ayam dengan harga jauh lebih murah. Tapi jangka panjangnya, kebutuhan masyarakat mengkonsumsi daging ayam akan bergantung dari impor. Saya katakan ini sudah terjadi di beberapa negara Afrika.Bahkan masyarakat di Philipina dan Hongkong sudah terperangkap hanya bisa mengkonsumsi daging ayam impor,” pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: