BKPM yakin arus investasi terus mengalir sepanjang 2020

Selasa, 30 Juli 2019 | 19:13 WIB ET
Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong
Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong

JAKARTA, kabarbisnis.com: Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) meyakini pemulihan arus  investasi masih terus berlanjut sepanjang tahun 2020, meski di tengah perang dagang Amerika Serikat dengan China belum menemukan kata akhir.

Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong mengaku optimisme ini dibangun setelah sejumlah investor besar yang ‘mengantre’ bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk membicarakan potensi investasi. Di antaranya Putra Mahkota Uni Emirat Arab (UAE) Syekh Mohammed bin Zayed Al Nahyan hingga Presiden Direktur SoftBank Masayoshi Son.

Thomas menilai kondisi tersebut mencerminkan optimisme luar biasa di kalangan investor. Khususnya setelah Pemilu yang dinilai berlangsung secara tertib, aman dan damai. Faktor lain yang berkontribusi adalah kenaikan peringkat Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional Standard and Poor's S&P global rating pada dua bulan lalu."Terjadi rating upgrade," ujar Thomas kepada wartawan di Jakarta, Selasa (30/7/2019).

Selain  perang dagang antara AS dengan China yang masih berlanjut,menurut Thomas perlambatan ekonomi secara global masih menjadi ancaman utama terhadap keputusan investor untuk menanamkan modalnya di Tanah Air. Namun ia optimistis, prospek investasi ke Indonesia masih sangat positif.

Thomas pun menjabarkan realisasi investasi pada tahun ini kontras dengan kondisi pada 2018. Tahun lalu disebutnya sebagai keadaan yang sulit, di mana investasi melambat. Khususnya pada Penanaman Modal Asing (PMA) yang turun sembilan persen dibandingkan 2017.

Pemulihan investasi pada tahun ini tergambar dengan realisasi sepanjang semester pertama yang mencapai Rp 359,6 triliun, meningkat 9,4 ,% dibanding dengan periode sama pada tahun lalu. Dari total realisasi semester pertama, sebanyak Rp 182,8 triliun di antaranya masuk dalam bentuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), yang naik 16,4 %. Sedangkan, realisasi PMA adalah Rp 212,8 triliun, naik empat persen dibandingkan semester pertama 2018.

Thomas memprediksi, sepanjang 2019, total investasi yang akan didapatkan Indonesia dapat kembali ke double digit. Meski tidak dapat menyebutkan angkanya secara pasti, ia memperkirakan realisasi investasi PMDN dan PMA menyentuh belasan atau low double digit. "Jadi, belasan, itu masih kira-kira," katanya.

Terlepas dari prediksi tersebut, Thomas menekankan, antusiasme dari kalangan investor masih sangat tinggi. Khususnya setelah beberapa wawancara Presiden Jokowi dengan media internasional dan pidatonya di Sentul yang dinilai Thomas sebagai policy speech. Sejak saat itu, permintaan informasi, pertemuan dan lalu lintas diskusi kepada Presiden Jokowi dan jajarannya naik drastis.

Plt Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM Farah Ratnadewi Indriani mengatakan Singapura menjadi investor terbesar ke Indonesia dengan catatan sebesar US $ 3,4 miliar atau Rp 47,6 triliun (asumsi 1 dolar AS = Rp 14.000). Kemudian disusul

Jepang yang mengucurkan dana ke dalam negeri sebesar US$ 2,3 miliar."Kemudian posisi ketiga China US$2,3 miliar, selain itu US$ Hong Kong 1,3 miliar dan Malaysia US$ 1 miliar," kata Farah.

Apabila ditarik berdasarkan Pulau, sambung Farah Pulau Jawa masih mendominasi serapan investasi dengan nilai Rp 218,1 triliun, sedangkan sisanya Rp 177,5 triliun diserap dari luar Pulau Luar Jawa.

"Berdasarkan lokasi proyek lima besar antara lain Jawa Barat (Rp 68,7 triliun), DKI Jakarta (Rp 54,5 triliun), Jawa Tengah (Rp 36,2 triliun), Jawa Timur (Rp 32 triliun) dan Banten (Rp 24,6 triliun)," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: