Kemendag tengarai keterbatasan pasokan jadi biang mahalnya harga cabai

Rabu, 17 Juli 2019 | 20:54 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Harga cabai di pasar terus bergerak liar. Padahal kenaikan harga ini telah berlangsung sejak sebelum Lebaran lalu.

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Tjahja Widayanti mengatakan pada umumnya pergerakan harga komoditas pangan yang tidak normal akibat adanya ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan.

"Saya berpikir harga itu pengaruh supply dan demand. Bisa jadi itu, tapi saya masih harus melihat datanya dahulu," kata Tjahja di Jakarta, Rabu (17/7/2019).

Tjahya mengaku masih berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk mencari tahu penyebab lonjakan harga cabai. Sebab, data dibutuhkan untuk menentukan kebijakan jangka pendek yang bakal diambil.

Secara umum, operasi pasar komoditas cabai menjadi jalan keluar pemerintah untuk meredam kenaikan harga. Hanya saja, kata dia, untuk melakukan operasi pasar diperlukan ketersediaan pasokan agar distribusi cabai ke pasar bisa optimal.

Dia mengakui belum mengetahui ketersediaan pasokan di sentra produksi, seperti di Jawa Timur dan Jawa Barat. "Operasi pasar kita harus tahu ada barangnya tidak. Kalau tidak ada barangnya bagaimana?" ujar dia

Mengutip Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga seluruh jenis dari komoditas cabai berada di atas Rp 50.000 per kilogram(kg). Kenaikan tertinggi ada pada cabai rawit merah yang naik Rp 700 /kg menjadi Rp 63,750/kg.

Selanjutnya diikuti cabai merah keriting sebesar Rp 60.150/kg, cabai merah besar Rp 57.100/kg, serta cabai rawit hijau Rp 56.600/ kg.

Sementara Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Tradisional (IKAPPI) Abdullah Mansuri mengatakan kenaikan harga cabai terjadi lantaran petani mengalami gagal panen imbas musim kemarau. Kenaikan harga tersebut menurutnya biasa terjadi setiap tahun dengan penyebab yang sama. 

Dia berharap pemerintah dapat mengatasi kekurangan pasokan saat musim kemarau. Hal ini dapat dilakukan dengan memetakan wilayah produksi cabai. 

Kemudian, membuat manajemen penanaman cabai. "Dengan demikian, daerah-daerah bisa saling memenuhi kebutuhan cabai. Misalnya Dieng harus menanam cabai bulan ini. Sementara Lumajang menanam cabai bulan depan,"pungkasnya

Ini berbeda dengan yang terjadi selama ini yaitu penanaman yang ditentukan secara mandiri oleh petani. "Bila petani mau menanam cabai besar, dia akan tanam cabai besar. Kalau mau tanam cabai keriting merah, mereka tanam itu," kata dia.

Abdullah juga berharap ada peneliti pertanian yang dapat membuat varietas bibit cabai yang bisa bertahan dalam kondisi tanah sangat kering, untuk mengantisipasi musim kemarau.kbc11

Bagikan artikel ini: