Awal 2020, PP Properti serah terimakan unit apartemen di Tower Caspian Grand Sungkono Lagoon

Rabu, 17 Juli 2019 | 20:49 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Pengembang PT PP Properti Tbk menargetkan akan melakukanserah terima unit apartemen di tower kedua atau Caspian di proyek Grand Sungkono Lagoon (GSL) Surabaya pada awal tahun 2020. Hal ini menyusul telah dilakukannya penutupan lantai atas (topping off) tower Caspian GSL pada Rabu (17/7/2019).

Project Director Grand Sungkono Lagoon, Achmad Soekarno mengatakan, tower Caspioan memiliki total 539 unit apartemen dengan berbagai tipe, mulai 1 bedroom, 2 bedroom dan 3 bedroom dengan tinggi 48 lantai.

"Sejak dipasarkan tahun 2015 penjualan apartemen di Caspian saat ini sudah mencapai 95 persen, dan tinggal unit-unit favorit saja, seperti di pojok dan view spesial," jelasnya di sela acara topping off tower Caspian, Rabu (17/7/2019).

Dengan telah diselesaikannya pembangunan konstruksi, pihaknya menargetkan bahwa serah terima unit apartemen di Tower Caspian akan bisa dilakukan pada awal tahun 2020. Bahkan pada akhir tahun 2019 ini, manajemen PP Properti juga akan mengoperasikan area komersial dengan nama Lagoon Avenue Sungkono Mall (Laves) dan akan resmi beroperasi juga wahana Kidzania.

Direktur Realty PT PP Properti Tbk, Galih Saksono mengatakan, animo dan antusiasme dari masyarakat terhadap GSL sangat tinggi. Tower pertama Venetian yang diluncurkan pada 2013 telah terjual habis dan kini tower Caspian mencapai 95 persen penjualan sejak diluncurkan kali pertama pada 2015.

’’Harga unit Caspian dipasarkan dengan harga perdana Rp 21 juta/m2 dan saat ini di pertengahan 2019, dalam kondisi belum serah terima dan mal belum beroperasi, harga sudah mencapai Rp 35 juta/m2,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT. PP Properti Tbk, Taufik Hidayat menambahkan, Jawa Timur memiliki posisi penting bagi perseroan. Pasalnya, dari 24 proyek yang tersebar di seluruh Indonesia, sebanyak 7 proyek diantaranya dibangun di Surabaya, dan 10 proyek di Jawa Timur.

“Dari sisi kontribusi revenue pada tahun 2018, Jatim berkontribusi sebanyak 40%. Artinya Jawa Timur cukup potensial bagi perseroan dan terutama untuk berinvestasi,” pungkasnya.

Pemprov Jatim dukung hunian high rise

Pada kesempatan tersebut, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak memberi dukungan terhadap pembangunan hunian vertikal atau high rise property di Jatim. Ini karena high rise property menjadi salah satu solusi bagi masyarakat untuk memiliki hunian dengan harga lebih terjangkau, serta sangat efisien untuk mobilitas masyarakat ke depan yang semakin tinggi.

“Pembangunan hunian memang sudah harus ke arah high rise property. Kebetulan saya pernah menjadi Wakil Presiden Asosiasi Pemerintah Daerah se-Asia Pasifik. Kita bahas mengenai the future of cities rata-rata adalah compact city, agar mobilitas bisa lebih efisien,” katanya.

Wagub Emil mengakui pentingnya membangun high rise property, yang salah satu contohnya adalah apartemen yang dikembangkan PP Properti yang sangat tepat bagi kota-kota besar, khususnya Surabaya, yang lahannya terbatas, mobilitas masyarakatnya tinggi, serta harga tanah, maupun landed house alias rumah yang juga relatif tinggi.

“Bayangkan, misalnya untuk lima ratus keluarga itu kalau disebar di landed house, katakan satu orang occupied seratus meter, artinya butuh lahan sekitar 50 hektare (ha). Tapi kebutuhan itu bisa dipenuhi hanya 3,5 ha oleh satu apartemen, ini adalah bentuk efisiensi ruang yang bagus, karena kita bisa mengakomodir lebih banyak orang di lahan yang terbatas,” katanya.

Ditambahkannya, high rise property juga dapat menjadi penyeimbang bagi intensitas kepadatan penduduk di Jatim, yang jumlahnya sekitar 40 juta orang, khususnya yang tinggal dan bekerja di lima kabupaten/kota, yakni Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, dan Pasuruan.

“Kelima daerah itu berkontribusi bagi setengah perekonomian di Jatim. Dengan intensitas yang seperti ini, jika tidak diimbangi dengan pengembangan properti, maka akan stuck, karena tidak ada ruang lagi untuk di develop. Jadi, masyarakat yang memilih high rise property itu memang tepat untuk menuju kota yang lebih produktif,” tambahnya.

Guna mendukung intensitas tersebut, pihaknya mendorong para developer properti untuk terus membangun hunian vertikal. Sebab, pemerintah telah memiliki program untuk memadupadankan berbagai wilayah di Jatim dengan sistem transportasi publik, untuk memfasilitas mobilitas penduduk agar lebih efisien.

“Contohnya, Kota Surabaya, yang akan dibangun Surabaya Eastern Ring Road (SERR). Ini akan menjadi bagian dari proyek yang disebut Gerbangkertasusila. Yaitu Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo dan Lamongan, dan ini akan menjadi megapolitan-nya Jatim,” lanjutnya.

Termasuk, lanjutnya, developer juga memikirkan kebutuhan akan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), dengan memanfaatkan infrastruktur jalan yang sudah tersambung. "Di sekitar tol Trans Jawa, mulai Surabaya, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Madiun hingga Ngawi sangat berpotensi dibangun hunian agar masyarakat bisa menjangkau," ungkap Emil.

Oleh karena itu, Wagub Emil mendorong pengembang properti untuk terus mengembangkan hunian yang bisa menjangkau masyarakat dan mendukung mobilitas mereka, dengan landmark kota Surabaya.

"Pemerintah Provinsi sangat terbuka untuk bersinergi karena industri properti ini memberikan kontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi," pungkasnya. kbc7

Bagikan artikel ini: