Kadin dan BKSP Jatim dorong perusahaan optimalkan tenaga magang

Rabu, 17 Juli 2019 | 18:51 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Badan Koordinasi Sertifikasi Profesi (BKSP) dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur (Jatim) bekerjasama dengan IHK (Kadin Jerman) mendorong kepada perusahaan yang ada di wilayah Jatim untuk mengoptimalkan keberadaan tenaga siswa magang.

Himbauan tersebut disampaikan saat Sharing dan Workshop tentang pemagangan atau vokasi dengan tema "Bagaimana pemagangan dapat memberikan benefit bagi perusahaan" yang digelar di Kantor Kadin Jatim pada Selasa (16/7/2019). Workshop diikuti oleh berbagai perusahaan yang ada di Jatim, diantaranya perusahaan  kimia, baja, persepatuan, media, jasa perdagangan, perhotelan, pelayaran dan  perkebunan, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) serta Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Beberapa lembaga, perguruan tinggi negeri  dan swasta, SMK dan lembaga pelatihan pendidikan juga turut hadir.

Ketua BKSP Jatim, Adik Dwi Putranto mengatakan, dengan adanya peserta magang di sebuah perusahaan, maka bisa terbantu proses produksinya. Apalagi peserta magang nantinya juga  dididik sesuai dengan kebutuhan dari perusahaan itu. "Nanti kami juga akan memberikan pelatihan," katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa Pendidikan Sistem Ganda (PSG) merupakan upaya meningkatkan kualitas pendidikan kejuruan dan relevan dengan dunia kerja. Hal ini seiring dengan tuntutan peningkatan kualitas lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK). Terlebih, kata dia, pendidikan mempunyai fungsi meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) agar mampu berperan lebih kreatif dan normatif dalam pembangunan.

"Dalam pelaksanaan program PSG, pendidikan sebagian diselenggarakan di sekolah dan sebagian dilaksanakan di industri," katanya.

Dalam upaya memenuhi kebutuhan tenaga kerja, lanjut dia, diperlukan sinergitas antara dunia pendidikan dan dunia usaha-dunia industri (DUDI) untuk dapat menghasilkan sumberdaya manusia (SDM) yang diharapkan. "Salah satu program yang dikembangkan saat ini adalah pemagangan yang dapat berupa Praktik Kerja Lapangan (PKL)," katanya.

Ia menjelaskan, permasalahannya apakah kegiatan tersebut telah memberikan keuntungan bagi perusahaan selain sebagai kewajiban atau malah jadi beban. "Untuk itu perlu ada pola dan sistem yang tepat agar kegiatan tersebut dapat memberi manfaat kepada semua pihak," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Andreas Gosche dari IHK (KADIN) Trier Jerman mengatakan, di negara asalnya, para siswa belajar selama lima hari di mana tiga hari merupakan belajar praktek dan sisanya belajar di sekolah.

"Artinya kalau siswa tersebut sudah selesai sekolah maka sudah siap untuk masuk ke dalam dunia kerja sesuai uang dibutuhkan. Di Jerman saat ini yang banyak adalah industri manufaktur, tetapi apapun perusahaannya tetap pola pemagangan itu perlu diterapkan," katanya.

Menurutnya, banyak keuntungan yang didapatkan di antaranya perusahaan tidak perlu lagi melakukan tes terhadap calon pegawai, karena dari siswa magang sudah diketahui bagaimana kerja yang dilakukannya. "Termasuk kebutuhan dari perusahaan seperti apa, sudah ditetapkan sejak siswa tersebut magang di sebuah perusahaan," pungkasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: