E-Learning, solusi bagi perusahaan yang ingin siapkan SDM di era digital

Rabu, 3 Juli 2019 | 16:42 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Era digital telah memaksa perusahaan untuk terus beradaptasi dengan cepat. Tidak hanya soal layanan, peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) juga harus dilakukan secara cepat dan tepat. Dan ini bisa didapatkan melalui penerapan e-learning. 

Hal ini dijelaskan oleh Senior Manager Pelayanan SDM dan HSSE Pelindo III, Edi Priyanto saat menjadi salah satu narasumber di acara seminar dengan tema "Insan Global di Era Digital, shaping a digital learning culture" yang digelar oleh  PPM Manajemen di Surabaya, Rabu (3/7/2019).

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa digitalisasi pembelajaran atau e-learning saat ini sudah tidak bisa dihindari karena telah menjadi kebutuhan yang mendesak, tidak hanya bagi perusahaan tetapi juga bagi karyawan atau pegawai.

"Pertama menjadi kebutuhan perusahaan. Sebab melalui e-learning proses pembelajaran.bagi karyawan akan menjadi lebih cepat, bisa dilakukan dimanapun, waktu juga relatif singkat dan biayanya pun menjadi tidak mahal" terangnya.

Dari sisi karyawan, e-learning ini juga sangat membantu karena mereka dituntut untuk meningkatkan kompetensi mereka. Karena hal ini sangat erat kaitannya dengan jenjang karir yang akan mereka capai. 

"Perusahaan butuh maka perusahaan membuat aplikasinya dan karyawan butuh maka karyawan memanfaatkannya. Keduanya harus sinergi. Jika hanya satu pihak saja, maka tidak akan bisa jalan," ujarnya.

Ia memberikan contoh, di Pelindo III, digitalisasi pembelajaran ini sudah mulai diterapkan melalui aplikasi "my pelindo". Langkah ini dilakukan dengan merujuk pada besarnya jumlah karyawan milenial yang ada di jajaran pegawai Pelindo III.

"55 persen pegawai Pelindo III adalah kaum milenial. Dan kami tahu bagaimana karakter belajar mereka, yaitu berbasis digital. Itu yang kami tangkap sehingga perusahaan akhirnya buat aplikasi my pelindo," tambahnya.

Dengan menggunakan aplikasi "my pelindo", maka absensi juga dilakukan secara digital. Selain absensi dan, juga ada perpustakaan yang berisi modul untuk setiap bidang dan lain sebagainya. 

Dan model seperti ini menurut Edi sudah mulai dilakukan oleh banyak perusahaan, walaupun masih belum banyak. "Sudah banyak yang menerapkan, tetapi belum dominan. Kalau dirata-rata mungkin sekitar 30 persen. Dan sebagian besar kendalanya adalah sistem sudah ada tetapi tidak digunakan karyawan," pungkasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: