Usai Huawei, AS embargo 5 perusahaan superkomputer asal China

Senin, 24 Juni 2019 | 07:35 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Departemen perdagangan AS kembali merinci batasan baru alias embargo terhadap perusahaan AS yang melakukan bisnis dengan 5 perusahaan pembuat superkomputer China. Pembatasan ini mulai berlaku Senin (24/6/2019) ini. Sebelumnya langkah serupa dilakukan terhadap pabrikan ponsel China, Huawei.

Seperti dikutip dari laporan CNN, Minggu (23/6/2019), Departemen Perdagangan AS mengatakan pihaknya memasukkan Wuxi Jiangnan Institute of Computing Technology and Sugon, dan tiga entitas yang terikat dengan Sugon di daftar hitam. Sama seperti Huawei, alasannya masih soal mengancam keamanan nasional.

Departemen Perdagangan AS mengatakan, 5 perusahaan China ini menggunakan superkomputer dan komponen buatannya untuk keperluan militer dan nuklir. Nantinya, Perusahaan AS tidak akan dapat mengekspor komponen ke lima perusahaan yang terdaftar tanpa lisensi.

Sugon merupakan penyedia utama pusat data dan superkomputer di China, dan salah satu produsen sistem komputer terkemuka di dunia.

Di situs webnya, Sugon mengatakan telah memberikan dukungan teknis untuk kemajuan penelitian ilmiah fundamental Tiongkok, peralatan ilmiah yang signifikan, dan pengembangan industri.

Untuk melakukan dukungan itu, Sugon membeli komponen komputer dari perusahaan Amerika Serikat termasuk Intel (INTC), Nvidia Corp (NVDA), dan AMD (AMD).

Pada tahun 2016, AMD menandatangani usaha patungan dengan perusahaan induk asal China yang sebagian dimiliki oleh Sugon. Kemitraan tersebut akhirnya membentuk dua entitas yang terpisah, yaitu Sirkuit Terpadu Chengdu Haiguang dan Teknologi Mikroelektronika Chengdu Haiguang.

Sebagai bagian dari kemitraan, AMD juga melisensikan kekayaan intelektual untuk teknologi microchip kepada perusahaan asal China tersebut, yang menggunakannya untuk mengembangkan chip untuk server yang dijual di China.

Chip tersebut akhirnya berkontribusi untuk produksi dalam negeri untuk barang-barang teknologi tinggi atau dikenal dengan istilah Made in China 2025 yang tengah China prioritaskan.

Pada tahun 2018, AMD memperoleh 86 juta dollar AS karena lisensi kekayaan intelektualnya berdasarkan kesepakatan dengan perusahaan tersebut.

Kendati akan membatasi ruang bisnis 5 entitas asal China, masih belum jelas bagaimana kerjasama lisensi intelektual tersebut mendorong keputusan Departemen Perdagangan AS.

"Kami saat ini sedang mengevaluasi masuknya entitas baru ke daftar hitam oleh Biro Perindustrian dan Keamanan," kata seorang juru bicara AMD seperti dikutip, Minggu (23/6/2019).

"AMD akan mematuhi peraturan tersebut, sama seperti kita telah mematuhi undang-undang AS hingga saat ini. Kami sedang meninjau secara spesifik perintah untuk menentukan langkah selanjutnya terkait dengan usaha "patungan kami" di Cina," tambah sumber tersebut.

Diketahui, AS- China telah terlibat dalam pertempuran sengit terkait dominasi superkomputer selama bertahun-tahun sebelum perang dagang merebak. Menurut AS, memegang superkomputer paling kuat sangat penting untuk keamanan nasional.

Superkomputer sendiri memang banyak digunakan untuk penelitian ilmiah, termasuk perawatan medis dan prediksi cuaca. Tetapi AS juga menggunakannya untuk pemodelan militer dan nuklir di seluruh dunia.

Departemen Energi AS pun mengendalikan superkomputer tercepat di dunia di Laboratorium Nasional Oak Ridge di Oak Ridge, Tennessee.

Summit, alias superkomputer yang dikendalikan oleh Departemen Energi AS, mampu melakukan 148 kuadriliun (1 juta miliar) kalkulasi per detik, atau hampir 30.000 kali lebih cepat dari iPhone Xs.

Menurut studi independen superkomputer dunia, Top500, AS pun telah memegang gelar superkomputer tercepat sejak Juni 2018. Sementara, China telah memegang posisi Nomor 1 sejak November 2013 hingga Juni 2018. Sebelum itu, Amerika Serikat secara konsisten menduduki daftar puncak.

Dari 500 superkomputer teratas, China memiliki jumlah sistem terbesar sebanyak 219. Sedangkan AS hanya memiliki 116 dari 500 komputer tercepat di dunia.

Tapi, seluruh superkomputer AS mengendalikan 38,4 persen daya superkomputer, yang menaungi dua sistem teratas di dunia atau mewakili sebanyak 15,6 persen. Sementara China mengendalikan hampir di bawah 30 persen dari kekuatan superkomputer dunia. kbc10

Bagikan artikel ini: