Pasar pergudangan lesu, Fortune Mate targetkan penjualan stagnan

Rabu, 19 Juni 2019 | 21:00 WIB ET
(KB/Purna Budi)
(KB/Purna Budi)

SURABAYA, kabarbisnis.com: Manajemen PT Fortune Mate Indonesia Tbk (FMII) tak terlalu muluk-muluk menargetkan pertumbuhan penjualan pada 2019. Masih lesunya pasar properti khususnya jenis pergudangan mendasari perseroan hanya berharap penjualan hingga akhir tahun ini minimal sama dengan realisasi penjualan di tahun 2018 lalu.

Direktur PT Fortune Mate Indonesia Tbk, Aprianto Susanto mengatakan, sasaran pasar dari produk pergudangan adalah pelaku usaha atau korporasi, yang dimana sebagian besar dari mereka masih wait and see dalam berinvestasi atau melakukan ekspansi usaha, pasca gelaran Pemilu 2019 serta memanasnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

"Makanya kita hanya memproyeksikan hingga akhir tahun ini penjualan minimal sama dengan pencapaian tahun lalu. Kita berharap semoga kondisi pasca Pilpres ini aman dan juga kondisi ekonomi global membaik," ujarnya usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) perseroan di Surabaya, Rabu (19/6/2019).

Perseroan sendiri saat ini mengandalkan dua proyek pergudangan dan shophouse (ruko) di dua lokasi, yakni Tambak Sawah di Sidoarjo dan Romokalisari Surabaya. Namun yang sudah dipasarkan dan dibangun adalah proyek pergudangan di Tambak Sawah yang menyasar segmen pergudangan premium.

Saat ini pihaknya tengah menyelesaikan pembangunan di blok B dan C pergudangan dan ruko di Tambak Sawah. Diharapkan penjualan di blok B yang saat ini masih sekitar 40 persen untuk pergudangan akan habis terjual hingga akhir tahun ini. Harga jual yang ditawarkan untuk gudang mulai di atas Rp 4 miliar hingga Rp 10 miliar. Sedangkan ruko 2 dan 3 lantai dipatok di kisaran Rp 3 miliar-4 miliar per unit.

"Untuk keseluruhan proyek di blok B, C dan D menyerap investasi sekitar Rp 240 miliar di luar lahan. Kita menargetkan seluruh proyek di Tambak Sawah akan terjual hingga akhir tahun 2020," tandas Aprianto.

Dalam laporan keuangan perseroan, sepanjang tahun 2018, penjualan bersih yang dicapai perseroan adalah sebesar Rp.43,23 milar atau mengalami kenaikan sebesar 22,6% dibandingkan dengan penjualan tahun 2017 yang sebesar Rp. 35,26 miliar. Sedangkan laba komprehensif pada 2018 sebesar 6,75 miliar atau jauh membaik dibanding tahun 2017 dimana perseroan masih mengalami rugi sebesar Rp 32,16 miliar.

Untuk periode yang berakhir pada 31 Maret 2019, penjualan bersih yang dicapai perseroan adalah sebesar Rp.28,81 miliar, atau naik sekitar 193,8% dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp.9,8 miliar. Sedang laba pada kuartal I tahun 2019 sebesar Rp 10,9 miliar atau naik 140,8% dibanding laba komprehensif pada periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 4,56 miliar.

Aprianto menambahkan, meski pasar cenderung melambat, namun pihaknya meyakini bahwa bisnis properti masih memberikan peiuang untuk tumbuh. Kurangnya pasokan rumah tinggal (backlog) akibat pertumbuhan jumlah penduduk yang tidak mampu diimbangi dengan ketersedian rumah tinggal, turunnya suku bunga kredit dan pembangunan infrastruktur secara masif oleh emerintah merupakan faktor-faktor pendorong sektor properti untuk tetap berkembang

Sementara itu guna mempertahankan kinerja di tahun 2019, Aprianto menyebut, perseroan mengambil sejumlah strategi, diantaranya dengan mempertahankan jumlah cadangan lahan yang sudah ada (existing) dengan cara akuisisi atau pembelian lahan seluas lahan yang terjual (replenishing). Selain itu juga aktif mencari dan mengembangkan properti di daerah-daerah baru dengan meiakukan kerjasama (partnership) dengan mitra lokal.

"Perseroan juga akan terus berinovasi produk dan mengembangkan properti yang eco-friendly. Namun  kami tetap akan fokus pada usaha real estat dan properti, terutama pada pengembangan pergudangan dan perumahan selain mencoba untuk pengembangan pembangunan apartemen," ujar Aprianto. kbc7

Bagikan artikel ini: