Saingi Amazon, Bukalapak siap rambah pasar Timur Tengah

Sabtu, 8 Juni 2019 | 06:44 WIB ET

SINGAPURA, kabarbisnis.com: Platform e-commerce asal Indonesia Bukalapak menargetkan Muslim yang tinggal di Timur Tengah. Langkah yang diambil tersebut sebagai jawaban dunia Islam untuk menyaingi Amazon dan Alibaba. Platform e-commerce lintas batas pertama di Indonesia yang menarik khusus bagi 1,8 miliar Muslim di dunia.

Pendiri dan presiden Bukalapak Fajrin Rasyid mengatakan ekspansi perusahaan di Timur Tengah diharapkan akan mulai secepatnya dan fokus pertama adalah negara-negara seperti Saudi Arab dan Uni Emirat Arab.

"Jika kita hanya menjual produk umum, maka mungkin orang hanya akan membeli dari Amazon atau Alibaba," kata Rasyid kepada Nikkei Asian Review dalam sebuah wawancara. 

Muslim saat ini berperingkat sebagai populasi dengan pertumbuhan tercepat di dunia serta menyumbang seperempat dari populasi dunia. Dengan total populasi Muslim akan mencapai 3 miliar pada tahun 2060, memberikan peluang besar bagi bisnis yang terkait dengan kebutuhan Muslim.

Sementara bisnis yang berfokus pada Muslim biasanya berfokus pada sektor keuangan, dengan lembaga keuangan lokal dan internasional menawarkan produk-produk seperti obligasi syariah "sukuk". Peningkatan e-commerce akan mendorong ekspansi cepat ekonomi Islam.

Menurut laporan Thomson Reuters, ekonomi Islam dunia diperkirakan akan tumbuh menjadi lebih dari US$ 3 triliun pada tahun 2023. Makanan dan mode saat ini merupakan sektor utama ekonomi Islam, dengan pasar untuk makanan halal siap berkembang dari US$ 1,3 triliun pada tahun 2017 menjadi US$ 1,8 triliun pada tahun 2023.

Sementara, untuk pasar pakaian diperkirakan akan tumbuh dari US$ 270 miliar menjadi US$ 361 miliar selama periode yang sama. "Kami memiliki banyak busana Islami dan makanan halal," kata Rasyid. 

Menurut Rasyid, ekspansi Timur Tengah Bukalapak tidak akan memerlukan investasi besar karena perusahaan akan memulai penjualan lintas batas terlebih dahulu dengan membangun kemitraan lokal dengan perusahaan logistik, seperti yang telah dilakukan perusahaan dengan peluncuran BukaGlobal di seluruh Asia pada bulan Mei.

Didirikan pada 2010 dan berkantor pusat di Jakarta, Bukalapak saat ini bernilai US$ 1 miliar. Adapun investor utamanya diantaranya adalah 500 Startups, Ant Financial, serta SIC wealth fund Singapura. 

Saat ini Bukalapak memiliki sekitar 4 juta mitra dagang di Indonesia yang tidak lain merupakan negara Muslim terbesar di dunia. Sehingga, memungkinkan mereka untuk menjual produk di seluruh negara kepulauan melalui platform.

Sebagai catatan, BukaGlobal saat ini menargetkan orang Indonesia yang tinggal di Singapura, Malaysia, Brunei, Hong Kong dan Taiwan yang ingin membeli produk dari rumah.

Rasyid mengatakan, perusahaan memutuskan untuk bergerak lebih awal untuk mengeksploitasi meningkatnya permintaan global untuk produk-produk Muslim dengan membawa barang-barang yang diproduksi oleh usaha kecil dan menengah Indonesia ke pasar global. kbc10

Bagikan artikel ini: