Ramah lingkungan, PKB 2019 bebas dari bahan plastik sekali pakai

Senin, 3 Juni 2019 | 04:11 WIB ET
(Istimewa)
(Istimewa)

DENPASAR – Ramah lingkungan. Hal itulah yang ingin disampaikan dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) 2019. Event ini akan dilangsungkan 15 Juni-13 Juli mendatang. Selain menonjolkan lebih banyak seni, event ini juga memperhatikan sisi kebersihan lingkungan, terutama sampah plastik.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali I Wayan Adnyana mengatakan, dekorasi dan properti yang digunakan akan terbebas dari bahan plastik sekali pakai.

"Hal ini di samping secara konsisten menjalankan Pergub Bali No.97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai, juga untuk menjaga Pesta Kesenian Bali sebagai kegiatan yang ramah lingkungan," kata Adnyana, Minggu (2/6).

Dalam pelaksanaan PKB tahun-tahun sebelumnya, dia tidak memungkiri banyak dekorasi menggunakan styrofoam. Seperti panggung kehormatan, stan pameran, maupun dekorasi gayor gamelan yang dibuat berbahan styrofoam. Ia mengakui styrofoam merupakan bahan yang mudah dikreasi, diukir, ditoreh dan dipahat untuk membentuk ornamen serumit apapun.

"Tetapi, untuk Pesta Kesenian Bali tahun ini harus menggunakan bahan-bahan dari alam yang dibentuk sedemikian rupa seperti dari janur, daun enau, bambu, dan berbagai jenis bunga," ujar Adnyana.

PKB 2019, menurut Adnyana, mengambil bertema "Bayu Pramana, Memuliakan Sumber Daya Angin". Sejalan itu, dekorasinya difokuskan menggunakan tiga warna, yakni hitam, putih, dan merah (warna Tridatu).

"Kami ingin menerjemahkan tiga warna ini secara fokus untuk Pesta Kesenian Bali. Sedangkan pada Festival Seni Bali Jani yang digelar Oktober mendatang akan menggunakan enam warna sesuai dengan pemahaman filosofi Sad Kertih," ucapnya yang juga akademisi Institut Seni Indonesia Denpasar itu.

Adnyana mengatakan, meskipun difokuskan pada tiga warna (hitam, putih dan merah), jika bahan material alamnya ada yang berwarna hijau dan kuning misalnya, tetap akan dipakai.

"Contohnya, untuk dekorasi menggunakan bunga gumitir yang berwarna kuning, atau bunga ratna berwarna ungu, konsepnya itu tetap harmoni," ujarnya.

Ketua Calendar of Events (CoE) Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Esthy Reko Astuti menegaskan agar masyarakat dapat membantu dalam menciptakan rasa aman dan nyaman. Terutama di saat dihelatnya PKB 2019. Sehingga wisatawan merasa senang dan nyaman saat berkunjung.

“Tapi saya melihat Bali aman dan tidak ada kejadian yang meresahkan. Ini patut disyukuri. Tinggal menciptakan kenyamanan tetmasuk kebersihan lingkungan,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini sudah banyak kelompok sadar wisata yang terbentuk di masing-masing daerah. Tugasnya tidak saja menjaga kebersihan, namun juga menjaga kondusivitas. 

“Keamanan dan kebersihan harus benar-benar ditingkatkan karena sekarang penggunaan media sosial sangat besar pengaruhnya. Karena sedikit saja ada kejadian dan menyebar di media sosial, wisatawan akan berpikir kembali untuk berkunjung,” tambah Esthy.

Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran I Regional III Kementerian Pariwisata Muh. Ricky Fauziyani mengatakan, keputusan menjaga lingkungan saat PKB sangat tepat.

“Sebagai destinasi kelas dunia, Bali memang harus menerapkan konsep ramah lingkungan dalam semua kegiatan. Termasuk dalam Pesta Kesenian Bali. Kebersihan harus dikedepankan, karena ini juga menyangkut kenyamanan dan keindahan Bali sebagai destinasi,” katanya. 

Menteri Pariwisata Arief Yahya berharap festival yang berjalan satu bulan ini semakin mendunia. Karena pesta kesenian ini memang sudah layak disebut level dunia, jika dilihat dari penampilan dari semua sanggar seni dari berbagai daerah di Bali itu.

"“Kami berharap wisatawan bisa menikmati Pesta Kesenian Bali ini dengan nyaman. Sebab, Bali adalah destinasi kelas dunia. Selain atrkasinya, aksesibilitas dan amenitasnya luar biasa bagus. Enjoy Bali,” kata Menpar Arief Yahya.

Bagikan artikel ini: