Pebisnis restoran andalkan Lebaran dongkrak penjualan

Jum'at, 31 Mei 2019 | 23:17 WIB ET
Tjahjono Haryono
Tjahjono Haryono

SURABAYA, kabarbisnis.com: Kalangan pelaku usaha kafe dan restoran berharap momen Ramadan dan Lebaran mampu mendongkrak omzet penjualan. Selain maraknya masyarakat yang melakukan belanja kebutuhan Lebaran, buka bersama hingga acara keluarga dan halal bihalal.

Ketua Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) Jawa Timur, Tjahjono Haryono mengatakan, dalam 2-3 bulan sebelum Ramadan, omzet penjualan kafe dan restoran rata-rata turun sekitar 20 persen dibanding sebelumnya.

"Banyak hal yang mempengaruhi, diantaranya kondisi politik karena adanya pesta demokrasi, sehingga masyarakat enggan keluar rumah. Untungnya bisa terbantu permintaan dari penjualan online atau delivery melalui Go-Food atau Grab Food, serta transaksi digital," jelasnya di sela buka bersama dengan media di Pasarame Tunjungan Plaza Surabaya, Kamis (30/5/2019).

Pihaknya bersyukur momen Ramadan mampu sedikit demi sedikit memulihkan kondisi tersebut. Dia menyebut, pada Ramadan hingga Lebaran, biasanya penjualan kafe dan restoran meningkat 20-30 persen dibanding kondisi normal. Menurutnya, peningkatan paling pesat terjadi di restoran dan kafe yang terletak di mal.

’’Karena fasilitas di dalam mal sudah lengkap. Setelah makan, bisa langsung belanja atau bisa juga Tarawih di masjid eksekutif yang disediakan,’’ tuturnya.

Tjahjono bilang, selain dari Surabaya, sebagian pengunjung restoran atau kafe juga berasal dari luar Surabaya. Yakni, Malang, Solo, Semarang, Madiun, dan Banyuwangi. Hanya saja, Apkrindo belum memiliki data resmi terkait dengan pengunjung dari luar Surabaya itu.

’’Mereka yang dari luar kota kalau buka puasa di Surabaya pasti sekalian belanja. Sebab, mal besar yang dekat dari Solo atau Semarang ya di Surabaya ini. Lewat tol cepat,’’ papar Tjahjono.

Apkrindo berharap kinerja positif bisnis kuliner bisa menutup penjualan pada triwulan pertama lalu yang lesu. Tjahjono juga optimistis pada semester kedua nanti angka penjualan kuliner Jatim bisa double digit. Apalagi, belakangan banyak kafe baru yang bermunculan. Menurut dia, hal itu bisa memberikan dampak yang baik untuk meningkatkan daya beli masyarakat.

Beberapa contoh tempat makan baru yang akan buka di Surabaya adalah saladstop, nasi goreng milenial, dan kopi becak. ’’Uniknya, semua owner-nya adalah anak muda,’’ ungkap Tjahjono.

Dia mengakui, pengusaha muda di rentang usia 22–30 tahun terus mengalami peningkatan. Bahkan saat ini sekitar 30-40 persen bisnis kuliner di Jatim didominasi anak muda. kbc7

Bagikan artikel ini: